Mau Investasi Properti, Perhatikan Hal Ini

Jumat, 6 Okt 2017 | Penulis: Prasojo

Housing-Estate.com, Jakarta - Hingga saat ini properti masih menjadi alternatif investasi yang banyak dipilih pemilik kapital. Asumsi bahwa harga properti tidak pernah turun, benar-benar melekat di benak banyak orang. Apalagi investasi properti wujudnya riil sehingga mereka merasa aman membelinya.

Harvest Bintaro

Harvest Bintaro

Keuntungan investasi properti bisa diperoleh dari surplus kenaikan harga atau capital gain, hasil sewa (yield) atau yang paling bagus dari keduanya. Menurut pengamat properti Panangian Simanungkalit, capital gain harus di atas laju inflasi. Sedangkan yield sangat tergantung jenis propertinya. Untuk rumah yield 3-5 persen per tahun sudah bagus, sedangkan apartemen di kisaran 6-7 persen, ruko 8-10 persen per tahun.

Kenaikan harga properti sangat tergantung lokasi, jumlah pasokan dan permintaan (supply and demand), konsep pengembangan, aksesibilitas, infrastruktur, dan fasilitas di kawasan, dan komitmen developernya menghidupkan proyek properti yang dikembangkan.

Pakar marketing properti Andy K Natanael memberikan contoh maraknya pembangunan apartemen  di Alam Sutera, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. “Lokasi sangat bagus, dekat tol, dan fasilitas komplit,” katanya. Hanya kebanyakan memasarkan tipe studio dan satu kamar tidur dengan sasaran para mahasiswa. Jumlah apartemennya ada 20 proyek, sedangkan di Alam Sutera baru ada dua kampus perguruan tinggi. Akibatnya suplai tipe studio dan satu kamar tidur berlebih.

Komposisi konsumen juga perlu dipertimbangkan. Perbandingan pembeli investor dengan enduser (pemakai akhir) harus lebih banyak enduser, supaya perumahan/apartemen cepat hidup. Kalau sebaliknya, konsumen investor lebih dominan, proyek properti itu sulit untuk segera hidup. “Proyek akan menjadi ghost town (kota hantu). Kalau sudah begini, orang yang akan menyewa pun jadi tidak tertarik sehingga harganya sulit diharapkan cepat naik,” jelasnya.

Komitmen developer menghidupkan proyeknya juga amat penting. Karena itu Andy menyarankan konsumen jangan hanya terbuai penawaran harga yang murah, tapi kritisi juga semua infrastruktur dan fasilitas yang dijanjikan dalam iklan developer. Apabila developer menjanjikan akan menghadirkan puluhan sekolah berkualitas, kampus, mal, dan fasilitas lainnya, sebaiknya ditanyakan sekolah atau kampus apa yang akan masuk, sudah ada MOU-nya atau belum. Kalau developer tidak dapat menunjukkan daftarnya atau sebatas klaim konsumen harus berhati-hati.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian konsumen soal konsistensi tentang konsep yang akan dikembangkan. Misalnya, pengembang mengembangkan properti yang sebagian membidik pasar menengah agak ke bawah dengan menawarkan hunian murah, tapi yang ditonjolkan dalam iklan-iklannya mal, sekolah, rumah sakit, dan  fasilitas lain yang semuanya untuk kalangan menengah-atas. Jadi fasilitas yang dibangun kelak tidak sesuai dengan kebutuhan riil sebagian penghuninya itu.

Yang juga perlu diperhatikan, skala pengembangan proyek. Jika membeli properti di proyek berskala kota, pengembangannya butuh waktu lama, bisa di atas 10 tahun baru mulai kelihatan menjadi sebuah kota. “Jadi, investasi properti itu harus cerdas. Kalau properti yang dibeli di proyek raksasa, ya harus sabar (menunggu untuk) mendapatkan keuntungan yang signifikan,” terang Andy.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan