Beli Rumah atau Sewa?

Kamis, 19 Okt 2017 | Penulis: Yoenazh Khairul Azhar

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Dalam sebuah wawancara tertulis dengan HousingEstate, praktisi dunia kreatif Yoris Sebastian memperkirakan, menyicil rumah mungkin tidak akan ada dalam agenda kaum milenial. Alasannya, bahkan dengan menggabungkan pendapatan (joint income) pun sangat sulit bagi millennials yang baru menikah punya hunian sendiri yang sesuai dengan keinginan mereka. “Menyewa apartemen di tengah kota mungkin jauh lebih realistis buat mereka,” katanya.

Menyewa menjadi pilihan yang lebih baik bila membeli rumah sendiri membuat biaya bulanan anda meningkat tinggi. | Foto : dok. Majalah Housing Estate Edisi Juli 2017

Menyewa menjadi pilihan yang lebih baik bila membeli rumah sendiri membuat biaya bulanan anda meningkat tinggi. | Foto : dok. Majalah Housing Estate Edisi Juli 2017

Pendapat itu ada benarnya. Tapi, punya rumah sendiri, menurut banyak praktisi properti dan perbankan, juga penting karena rumah juga aset, bukan sekedar hunian. Selama hidup orang toh juga perlu punya kekayaan sewajarnya sebagai legacy. Rumah (properti) bersama uang, emas, dan sejenisnya lazim dipakai sebagai instrumen penyimpan kekayaan.

Sekarang pertanyaannya, apakah sebaiknya anda membeli rumah atau menyewa?

Dari perbincangan dengan sejumlah bankir kredit rumah (KPR/KPA) dan pengembang, pertimbangannya paling tidak ada lima.

Pertama, apakah anda sudah punya uang muka atau down payment (sekitar 10–30% dari harga rumah tergantung tipe) untuk membeli rumah secara kredit?

Kedua, apakah anda mampu membayar aneka biaya dan pajak (sekitar 4–5% dari harga rumah) untuk membeli rumah itu seperti PPN, BPHTB, AJB, bea balik nama, biaya KPR, dan lain-lain?

Ketiga, apakah dengan depe yang dibayar, misalnya 10%, anda mampu mencicil rumah yang porsinya sekitar 30–35% dari gaji bersih setiap bulan selama tenor kredit?

Keempat, apakah lokasi rumah cukup efisien dicapai dari tempat kerja dan berbagai fasilitas publik penting seperti pasar, sekolah, klinik, dan lain-lain?

Kelima, apakah anda akan menempati rumah itu secara permanen atau sementara?

Bila jawaban atau lima pertanyaan itu positif, sebaiknya anda membeli rumah. Tapi bila beberapa jawaban negatif, anda sebaiknya menyewa.

Misalnya, bila anda tidak mampu membayar depe (langsung atau dengan mencicil), menyewa rumah jelas opsi yang paling realistis. Hal yang sama berlaku untuk rumah yang hanya akan dihuni sementara. Lebih baik menyewa ketimbang membeli kalau sudah jelas rumahnya hanya akan dihuni 4–5 tahun?

Bisa juga anda mampu membayar depe rumah, tapi nilainya tidak cukup memadai, sehingga dengan memperpanjang tenor KPR hingga 20–30 tahun pun gaji anda tidak mampu membayar cicilan kredit. Dalam kasus ini, menyewa rumah juga opsi yang logis.

Atau depe rumah cukup, aneka pajak dan biaya pembelian rumah mampu dibayar, cicilan kredit pun terjangkau gaji anda, tapi lokasi rumah membuat biaya transportasi ke tempat kerja dan aneka fasilitas publik sangat tinggi dan menguras tenaga. Tentu saja menyewa rumah dekat tempat kerja pilihan yang lebih sehat.

Intinya, harus ada analisis cost and benefit sebelum memutuskan apakah akan menyewa atau membeli rumah. Misalnya, anda menyewa rumah atau apartemen dua kamar di dalam kota Rp4 juta/bulan net. Karena tinggal di dalam kota, biaya transportasi ke tempat kerja dan berbagai fasilitas publik rata-rata hanya Rp500 ribu/bulan dengan waktu tempuh 30–60 menit per perjalanan pp.

Di pihak lain ada penawaran rumah tapak yang cocok dengan selera anda di pinggir kota dengan cicilan bulanan Rp3,5 juta/bulan. Hanya, karena berada di pinggir kota, biaya transportasi dari rumah itu ke tempat kerja dan berbagai fasilitas publik terdekat mencapai rata-rata Rp1 juta/bulan.

Waktu tempuhnya pun lebih lama, rata-rata 60–120 menit per perjalanan pp. Anda juga harus mengeluarkan biaya pemeliharaan, keamanan, dan pajak Rp250 ribu/bulan. Kalau anda mampu membayar depe, aneka bea dan pajak serta biaya kredit rumah, apakah sebaiknya membeli rumah itu atau tetap menyewa apartemen?

Logikanya lebih baik membeli rumah sendiri karena cost-nya hampir sama dengan menyewa apartemen. Memang, mobilitas anda dari rumah itu ke tempat kerja dua kali lebih lama dan mungkin lebih melelahkan. Biaya bulanan anda juga bertambah Rp250 ribu.

Tapi, itu pengorbanan yang pantas karena imbalannya juga sepadan: sebuah aset bernama rumah yang nilainya terus naik melampaui semua biaya tersebut. Lain cerita bila total biaya yang harus anda keluarkan dengan tinggal di pinggir kota itu membengkak menjadi, misalnya Rp6 juta. Mungkin menyewa lebih baik daripada membeli rumah.

Sumber: Majalah HousingEstate edisi Juli 2017

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan