Habitat Indonesia Bisa Bangun Rumah Rakyat Rp36 Juta/Unit

Selasa, 24 Okt 2017 | Penulis: Yudis

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Pemerintah telah menetapkan harga rumah murah yang mendapatkan fasilitas pembebasan pajak dan subsidi kredit pemilikan rumah (KPR) seharga Rp123-193 juta per unit tergantung wilayah. Di megapolitan Jabodetabek misalnya, patokan harganya Rp141 juta/unit. Rata-rata rumah untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) itu berukuran 24/60.

rumah-habitat

Apakah harga patokan rumah itu wajar, ketinggian atau kerendahan dibanding kualitas rumah yang diterima MBR baik dari sisi lokasi maupun spek bangunan? Tidak ada yang memberi penjelasan detail. Kalangan pengembang sendiri selalu mengeluhkan patokan harga rumah bersubsidi itu karena dianggap terlalu rendah mengingat harga tanah dan bahan bangunan terus naik, sehingga keuntungan mereka makin tipis atau kualitas bangunan rumah terpaksa diturunkan.

Tapi, sebagai pembanding kita mungkin bisa belajar dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) Habitat for Humanity Indonesia (HHI) yang fokus menggarap penyaluran bantuan rumah (social housing) untuk masyarakat miskin, yang bisa membangunnya dengan biaya jauh lebih rendah.

Menurut Herbet Barimbing, Senior Manager of Field Operation Habitat, pihaknya bisa membangun rumah sederhana layak huni sekelas rumah bersubsidi dengan biaya Rp36 juta per unit di luar tanah, dengan luas bangunan 36 m2.

“Caranya kita fokus pada fungsi rumah, bukan estetikanya. Jadi, materialnya untuk atap menggunakan genteng metal, dinding batako, lantai semen, dan seterusnya hingga rumah layak dihuni sebuah keluarga,” katanya kepada housing-estate.com di Jakarta, Selasa (24/10).

Penggunaan materialnya diupayakan dari sekitar wilayah rumah yang mendapat bantuan dengan radius maksimal 5 km dari lokasi. Bila rumahnya masih relatif baik, biaya renovasinya bisa lebih murah dari Rp36 juta karena hanya memperbaiki spot tertentu. Sebelum rumah direnovasi, dilakukan survei mendalam agar yang mendapatkan bantuan benar-benar masyarakat yang paling membutuhkan.

Selama 20 tahun berkiprah di Indonesia, bantuan rumah yang sudah disalurkan pendonor melalui HHI mencapai 60 ribu unit di berbagai pelosok kota hingga desa khususnya di pulau Jawa. Sebelum dilakukan renovasi, Habitat juga melakukan sosialisasi dan uji publik agar masyarakat sekitarnya bisa menilai apakah keluarga yang dibantu benar-benar berhak menerimanya.

“Jadi, nilai Rp36 juta itu nilai maksimal, sudah termasuk biaya survei hingga sosialisasi termasuk gaji kami yang bekerja di Habitat. Pola pembangunannya berbasis komunitas. Di satu kawasan yang dibantu warganya juga bergotong royong membangun rumahnya secara bergantian, sehingga biayanya bisa lebih murah lagi,” jelasnya.

Tentu saja biaya pembangunan rumah versi Habitat tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan rumah serupa yang dibangun perusahaan pengembang. Perusahaan pengembang kita tahu juga harus mengeluarkan biaya pembangunan infrastruktur, perizinan, dan lain-lain selain biaya pembangunan rumahnya sendiri.

Namun, pengalaman Habitat itu tetap layak menjadi perhatian, pembelajaran dan pembanding pemerintah cq Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta perusahaan pengembang. Paling tidak perlu diperjelas dan dijelaskan, apakah harga patokan rumah bersubsidi yang berlaku saat ini memang wajar, ketinggian atau kerendahan seperti keluhan pengembang, dibanding kualitas bangunan rumah yang diterima konsumen?

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan