Harga Properti di Serpong Dua Tahun Tidak Bergerak

Sabtu, 28 Okt 2017 | Penulis: Prasojo

Housing-Estate.com, Jakarta - Serpong, Tangerang (Banten) merupakan pusat pengembangan real estate paling bersinar di megapolitan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), bahkan mungkin juga di Indonesia. Booming properti yang terjadi sepanjang 2009–2013 membuat kawasan makin cepat berkembang dengan beragam fasilitas untuk kalangan menengah atas urban. Harga propertinya tumbuh fantastis melebihi batas wajar. Motor penggeraknya, para kolektor yang ingin mengeruk untung besar dari properti yang dibelinya. Rumah (landed residential), ruko, apartemen terus digelontor pengembang yang harganya hanya terjangkau kalangan berduit itu.

Symphonia Summarecon Serpong | foto : rumahdijual.com

Symphonia Summarecon Serpong | foto : rumahdijual.com

Tapi, saat pasar properti terpuruk seperti tiga tahun terakhir, kawasan seperti itu pula yang paling terpukul. Dengan harga yang sudah kelewat tinggi, propertinya jadi sulit dijual. Pasokan berlebih juga membuat harganya makin tertekan. Dua tahun terakhir harga properti di Serpong sama sekali tidak bergerak, bahkan cenderung turun.

Berdasarkan pusat data HousingEstate, tahun 2015 rumah tipe 110/126 di klaster Topaz, Summarecon Serpong (800 ha) misalnya, harganya Rp2 miliar. Sekarang Summarecon melansir tipe hampir sama 107/128 di klaster Vivaldy seharga Rp2,1 miliar. Klaster ini berada di kawasan Symphonia, area pengembangan baru seluas 200 ha yang diluncurkan satu bulan lalu.

Kondisi itu juga tercermin di pasar seken. Tipe 193/162 di Maxwell Residence, Summarecon Serpong, di pasar seken ditawarkan Rp3,2 miliar. Padahal Maret 2015 tipe rumah itu dipasarkan Rp3 miliar. Menurut agen properti yang memasarkan, pemiliknya bersedia melepas dengan harga Rp3,1 miliar. “Bahkan, kalau ada konsumen yang serius Rp3 miliar pun dilepas,” katanya kepada housing-estate.com di Jakarta, Jumat (27/10).

Kondisi serupa terjadi di BSD City (6.000 ha). Tahun 2014 Sinar Mas Land (SML), pengembangnya, memasarkan tipe 70/77 di kawasan Greenwich Park seharga Rp1,4 miliar. Kini tipe hampir sama 78/72 yang baru diluncurkan di kawasan The Savia (17 ha) dibandrol Rp1,1 miliar. Bahkan, tipe yang lebih besar masih lebih murah seperti tipe 78/96 yang dibandrol Rp1,3 miliar. The Savia dikembangkan di kawasan Nusaloka, area pengembangan BSD City tahap pertama yang sudah di-develop sejak sebelum reformasi tahun 1998.  Kendati infrastrukturnya tidak sebagus di pengembangan tahap kedua, harga rumah yang ditawarkan di kawasan baru itu merupakan gambaran pengembangnya yang berkompromi dengan pasar.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan