Arab Saudi Akan Bangun Kota Baru Senilai Tiga Kali APBN Indonesia

Selasa, 31 Okt 2017 | Penulis: Nta

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Negeri kaya minyak, Arab Saudi, berencana membangun sebuah kota baru di tepi Laut Merah, di perbatasan Mesir dan Yordania. Kota baru yang diberi nama NEOM ini dirancang sebagai megacity dengan luas 26.500 km2, sekitar lima kali luas pulau Bali. Kota ini akan berbasis industri non polutan termasuk pengembangan bioteknologi dan pengolahan makanan berteknologi tinggi, juga gaya hidup. Kota berstandar internasional ini diharapkan menjadi destinasi wisata dan investasi baru di jazirah Arab. Dari kota ini rencananya akan dibangun jembatan melintas Laut Merah ke kota terdepan di Mesir. Jembatan ini diharapkan menjadi  penghubung dua benua, Asia dan Afrika. Tahap pertama pembangunan ditargetkan bisa terealisasi tahun 2025.

Ilustrasi NEOM, (Foto: Tomonews. US)

Ilustrasi NEOM, (Foto: Tomonews. US)

Nilai proyeknya sebesar 500 miliar dolar AS atau Rp 6.780 triliun, sekitar tiga kali Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) Indonesia 2017. Pemerintah Arab Saudi tidak mendanai seluruhnya. Melalui Public Investment Fund (PIF), lembaga pengelola dana kerajaan yang berdaulat, Arab berharap proyek ini diminati investor baik lokal maupun internasional. Maklum, meski terkenal kaya raya Saudi sedang berkutat mengatur kondisi perekonomiannya menyusul merosotnya harga minyak dunia.

Proyek ini ada kaitannya dengan rencana suksesi kepemimpinan di Arab Saudi. Di tangan putra mahkota Pangeran Mohammad bin Salman yang diperkirakan tidak lama lagi menggantikan ayahnya, Salman bin Abdulaziz Al Saud, sebagai raja, negeri ini giat melakukan reformasi ekonomi dan sosial. Dengan modernisasi investor diharapkan lebih tertarik menanam modalnya. Modernisasi yang sudah dilakukan antara lain privatisasi saham Aramco (perusahaan minyak milik kerajaan) sebesar lima persen, menghilangkan semua regulasi yang membatasi investasi, dan membolehkan investor asing memiliki lebih dari 10 persen saham di perusahaan-perusahaan Arab Saudi yang sudah terbuka.  Yang kontroversi membolehkan kaum perempuan mengendarai kendaraan di jalan umum.

Di NEOM nantinya akan tersedia fasilitas gaya hidup yang belum ada di wilayah Arab Saudi. Menurut sang pangeran, proyek ini menandai langkah kerajaan yang bergerak ke kota generasi baru. “NEOM akan digerakkan oleh energi bersih dan tidak ada ruang bagi segala hal yang berbau tradisional,” ucapnya kepada para calon investor, seperti dikutip dari Bloomberg. Penerapan konsep tersebut dimungkinkan karena NEOM akan dikelola secara independen. Klaus Kleinfeld, mantan chairman and chief executive officer of Siemens AG and Alcoa Inc., ditunjuk untuk memimpin pembangunan proyek mega ini. Menurut Steffen Hertog, profesor dari the London School of Economics dan pengamat ekonomi Arab, NEOM sepertinya dirancang menjadi sebuah “kawasan berikat” seperti Dubai. Jadi, kota ini akan memiliki kedaulatan sendiri atas bea dan dan pajak, termasuk hukum yang akan diterapkan. “Di Dubai konsep tersebut berjalan baik, tapi kalau akan di-copy di tempat baru sepertinya tidak akan berjalan baik,” kata Hertog meragukan.

Keraguan serupa juga diutarakan sejumlah pihak. Pasalnya, reformasi ekonomi yang sudah dijalankan dua tahun masih belum terlihat hasilnya, termasuk pertentangan dari segi agama. Sejumlah proyek ikonik yang sudah dilansir sebelumnya, seperti pusat keuangan di Riyadh senilai 10 miliar dolar AS, hingga kini juga masih susah payah untuk terwujud.  Sang Pangeran memahami ini dengan mengatakan bahwa mimpi memang mudah, tapi mewujudkannya sulit.

Sumber: Bloomberg & Gulfbusiness

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan