James Riady: Berhenti Mengeluh, Ayo Bangkit Sama-Sama

Rabu, 1 Nov 2017 | Penulis: Yoenazh Khairul Azhar

Housing-Estate.com, Jakarta - Chairman dan Chief Executif Officer Lippo Group James T Riady mengakui banyak hal saat ini yang membuat pasar tidak confident (percaya diri) sehingga bisnis properti masih lesu, mulai dari kebijakan dan peraturan pemerintah, sistem perpajakan, sampai suasana sosial politik.

James T Riady | Foto : flickr.com

James T Riady | Foto : flickr.com

Namun, di pihak lain harus diakui, perkembangan positif juga tak kalah banyak. Mulai dari inflasi yang terjaga rendah, nilai tukar yang stabil, bunga yang makin murah, cadangan devisa yang terus naik, peringkat kemudahan berinvestasi yang meningkat, masuknya Indonesia ke level investment grade, besarnya kebutuhan perumahan di perkotaan, sampai pembangunan infrastruktur transportasi yang massif di banyak wilayah termasuk megapolitan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Karena itu ia mengajak semua pengembang tidak hanya mempersoalkan situasi yang tidak mendukung confident pasar itu, tapi bersama-sama bangkit dengan membuat berbagai terobosan yang memungkinkan kebutuhan perumahan dari kalangan muda yang begitu besar bisa dilayani.

“Kalau kita terus tidak confident dan dan tidak berani bikin terobosan-terobosan, kita akan ketinggalan karena asing semua mau masuk (mengembangkan proyek properti di) Indonesia,” katanya dalam Savills Property Leaders Dialogue di Jakarta, Senin (1/11/2017), memperingati tiga tahun keberadaan perusahaan konsultan properti global yang berbasis di London (Inggris) itu di Indonesia.

James berbicara bersama Direktur Utama PT PP Properti Tbk Taufik Hidayat, CEO PT KG Global Development Harry Gunawan, CEO Gunungsewu Group Husodo Angkosubroto, dan CEO Strategic Development and Services Sinar Mas Land (SML) Ishak Chandra, dan Direktur Ciputra Group Artadinata Djangkar. Sebelum diskusi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memberikan keynote speech.

Ia mencontohkan Lippo Group yang mengambil terobosan dengan melansir kota baru Meikarta (500 ha) di sentra kawasan industri terbesar Indonesia di Cikarang, Bekasi (Jawa Barat) di jalur tol Jakarta-Cikampek yang disebutnya pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di proyek itu ia menawarkan hunian vertikal (apartemen) untuk semua segmen seharga mulai dari Rp127 juta sampai Rp1 miliar per unit tunai atau antara Rp6 –7 jutaan/m2. Saat ini sekitar 140 ribu unit sudah terpesan.

James menjelaskan, Lippo bisa menjualnya dengan harga rendah karena bisa memasarkan proyek dalam jumlah sangat masif dalam waktu singkat. “Itu apartemen seharusnya saya jual Rp16–18 jutaan per meter karena materialnya berkualitas, sehingga konstruksinya saja rata-rata sudah Rp8,5 juta per meter. Tapi, kalau saya pasang harga segitu, sebulan paling saya jual 200-an unit. Karena itu kita bikin harga yang jauh lebih rendah sehingga penjualannya jadi luar biasa. Dalam enam bulan sejak dilansir Mei lalu sudah terpesan 140 ribuan unit,” tuturnya.

Setelah menawarkan apartemen di Meikarta dengan harga rendah itu kepada karyawan Lippo Group sebagai tes pasar dan responnya bagus, Lippo pun dengan pede merilis proyek ke pasar. Dengan volume penjualan yang begitu besar, biaya konstruksi bisa ditekan jauh lebih rendah, begitu pula pengadaan material. “Saya bisa hire 30 kontraktor menengah sekaligus untuk mengerjakan puluhan menara di pengembangan tahap pertama. Kita juga bayar di muka supplier bahan bangunan supaya harganya bisa murah,” jelasnya.

Bila langkah terobosan Lippo Group itu bisa diikuti pengembang besar lain, ia yakin bisnis properti Indonesia akan bangkit lagi tanpa harus menunggu aksi pemerintah. “Para pengembang besar kita beroperasi di 40 kota di Indonesia dengan stok tanah yang amat besar. Di Cikarang saja Salim Group dan Sinar Mas punya tanah ribuan hektar. Itu luar bisa (dampaknya) kalau semua mau sama-sama mencari terobosan untuk tetap bisa berjualan (dalam situasi seperti sekarang). Properti kita akan bangkit (lagi),” kata putra sulung taipan bisnis Mochtar Riady ini.

Ia mencontohkan, saat diluncurkan awal 1990-an BSD City dari Sinar Mas Land yang punya lahan 5.000 ha di Serpong, Tangerang (Banten), dalam sebulan hanya bisa jualan puluhan sampai ratusan uni, dibanding Lippo Karawaci (3.000 ha) di Karawaci, Tangerang, dan Sentul City (3.000 ha) di Sentul Selatan, Bogor (Jawa Barat) yang waktu itu juga dikelola Lippo, yang bisa ribuan unit. “Bayangkan, tanah 5.000 hektar hanya jualan puluhan sampai ratusan unit sebulan. Bagaimana mau melayani pasar yang demikian besar dan kapan mengembangkannya jadi kota?” tanyanya sambil menoleh ke Ishak Chandra.

James juga memberikan contoh lain tentang betapa lambannya perkembangan sebuah proyek kota baru kalau tidak ada terobosan. Lippo Cikarang (3.000 ha) dari Lippo Group, Kota Jababeka (5.600 ha) dari PT Jababeka Tbk, dan Kota Deltamas dari Sinar Mas Land di Cikarang yang lokasinya saling berdekatan dan berhadapan serta dilintasi tol Jakarta-Cikampek, selama puluhan tahun tidak terkoneksi satu sama lain. “Dari Lippo Cikarang kalau mau ke Kota Jababeka orang masuk tol dulu, begitu pula sebaliknya, sehingga perkembangannya lamban dan jadi biang macet di tol Jakarta–Cikampek,” katanya.

Sejak beberapa tahun lalu Lippo Group menggagas pembangunan gerbang tol baru di Cibatu km 34 tol Jakarta–Cikampek (sudah beroperasi sejak tahun lalu) yang menyatukan tiga kota baru itu. Konektifitas antara ketiga kota baru itu pun menjadi lebih mudah. Dalam waktu dekat, juga digagas Lippo Group, untuk makin memperkuat konektifitas itu, akan dibangun jalur APM monorail yang selain menyatukan tiga kota baru itu, juga empat kawasan industri besar di dekatnya. “(Terobosan) yang seperti itu harus terus sama-sama kita dorong,” tukas James.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan