Yang Kaya Pun Kini Beli Pakai KPA

Senin, 13 Nov 2017 | Penulis: Yoenazh Khairul Azhar

Housing-Estate.com, Jakarta - Tidak seperti di masa lalu yang umumnya menggunakan cara bayar tunai bertahap atau bahkan tunai, kaum berada sekarang kebanyakan menggunakan kredit pemilikan apartemen (KPA) untuk membeli properti hunian. Paling tidak begitulah yang tergambar di tiga proyek untuk kalangan menengah atas dan high end yang dikembangkan PT Intiland Development Tbk di Surabaya, Jawa Timur.

Graha Golf

Graha Golf

Sekitar 60 persen konsumen apartemen mewah Graha Golf (4 menara/23 lantai) di pinggir lapangan golf perumahan mewah Graha Family, Jalan Mayjen Yono Soewoyo, misalnya, membeli dengan KPA. Sisanya tunai bertahap dan tunai. “Yang beli umumnya pengusaha. Dengan menggunakan KPA, mereka lebih bisa mengatur cash flow-nya (dalam situasi bisnis seperti sekarang),” kata Koemalawati, Marketing Manager Graha Golf. Selain itu ada juga yang menyebut untuk menghindari pengenaan pajak yang besar.

Graha Golf sudah memasarkan dua menara sejak awal 2015 mencakup 91 unit hunian tipe 3 dan 4 kamar (bed room/BR) seluas 122 dan 138 m2. Harganya saat ini Rp5 miliar dan Rp6,8 miliar/unit. “Menara satu sudah habis, menara dua sudah laku 80 persen,” ujarnya kepada housing-estate.com di Surabaya akhir pekan lalu. Ia menyebutkan, sejak dilansir penjualan apartemen stabil saja karena banyak kaum berada yang ingin tinggal di Graha Family yang dianggap sebagai “Mentengnya” Surabaya dan harga rumah tapaknya paling murah sudah Rp5 miliaran.

Apalagi, Graha Golf menawarkan panorama langsung ke lapangan golf. “Di sini banyak yang cari hunian dengan view lapangan golf. Tahun ini orang Korea (yang penggila golf) beli sembilan unit untuk para eksekutif perusahaannya,” ujarnya. Serah terima unit di dua menara pertama ditargetkan akhir 2018. Dalam waktu dekat akan dipasarkan menara ketiga sekitar 40 unit berisi tipe 3BR seharga Rp3,8–4 miliar/unit dan 4 BR seharga mulai dari Rp5 miliar. Ukuran unit mulai dari 138 m2.

Begitu pula di apartemen mewah bertingkat rendah dan sedang The Rosebay (1 ha/7 menara/229 unit), juga di dalam kawasan Graha Family dengan panorama ke lapangan golf. “Kebanyakan beli pakai KPA,” kata Elita Josephine, Asisten Manager Marketing The Rosebay, kepada housing-estate.com. Tiga menara apartemen ini tingginya delapan lantai, satu menara lima lantai, dan tiga menara lagi empat lantai. Sejak dipasarkan awal 2016, unit terjual disebut sudah 60 persen. Tipe unit 2BR 62–75 m2 seharga mulai dari Rp2,7 miliar/unit serta 3BR 106-128 m2 seharga Rp4–5,5 miliar/unit.

“Harga itu naik sekitar 15 persen dibanding awal 2016,” ujarnya. Proyek sedang dibangun dengan target serah terima dua menara pertama itu Mei 2019. Selain lokasi di Graha Family dengan view lapangan golf, konsumen tertarik karena apartemen bertingkat rendah dan tipe unitnya lebih kecil sehingga harganya lebih terjangkau pengusaha dan profesional muda berpenghasilan besar.

Di proyek properti terpadu (mixed use development) Praxis di Jalan Panglima Sudirman juga demikian. Kebanyakan konsumen membeli apartemennya dengan KPA menyusul terus menurunnya bunga bank. “Hanya 20 persen yang tunai bertahap,” kata Leonardo Josea, Asisten Manager Marketing Praxis kepada housing-estate.com. Proyek ini memadukan apartemen (28 lantai/295 unit), hotel bintang empat (19 lantai/266 kamar), serta ritel dan office mall (4 lantai dengan luas lot kantor mulai dari 39 m2) di atas lahan 1,1 ha di pusat kota Surabaya. Konstruksi sudah berlangsung dengan target serah terima dan beroperasi Juni 2018.

Khusus apartemen disediakan empat lantai (lantai 32-35) berisi unit khusus dengan bangunan menjorok ke luar dan panorama lebih luas ke arah utara dan timur kota yang dinamakan signature level. “Sampai saat ini sudah 202 unit apartemen yang laku,” tukasnya. Tipe unit 1-3 BR seluas 44-150 m2 seharga Rp1,3–5 miliar/unit sudah termasuk PPN, dibanding harga perdana tahun 2014 yang mulai dari Rp800 jutaan.

Leo menyebutkan, harga jual apartemen Praxis terbilang kompetitif untuk lokasi di pusat kota. Karena itu umumnya pembeli adalah end user (yang membeli untuk dihuni sendiri). “Karena harga rumah tapak di pusat kota sudah sangat tinggi. Apalagi, pembangunan apartemen berjalan sesuai jadwal. Kita udah mau serah terima, proyek lain di sekeliling baru mulai dibangun,” katanya.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan