Au Bintoro: Pengembang Asing Punya Banyak Duit

Sabtu, 2 Des 2017 | Penulis: Putri

Housing-Estate.com, Jakarta - Perusahaan asing makin banyak masuk mengembangkan proyek properti di Indonesia, mulai dari Jepang, China, Korea, Hongkong sampai Singapura. Sebagian mereka mengembangkan proyeknya sendiri, sebagain bekerja sama dengan developer domestik. Salah satunya Olympic Group yang selama ini terkenal sebagai produsen furnitur dengan basis usaha di Kota Bogor, Jawa Barat.

Bos Olympic Group Au Bintoro usai menghadiri prosesi peluncuran sekaligus peletakan batu pertama (ground  breaking) superblok Olympic City (100 ha) di Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (29/11/2017). (Foto: Dok. Andrian Saputri/HousingEstate)

Bos Olympic Group Au Bintoro usai menghadiri prosesi peluncuran sekaligus peletakan batu pertama (ground  breaking) superblok Olympic City (100 ha) di Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (29/11/2017). (Foto: Dok. Andrian Saputri/HousingEstate)

Olympic menggaet China Construction Third Engineering Bureau Co Ltd (China) dan Country Garden dari Hongkong untuk menggarap proyek superblok Olympic City (30 ha) di Jl Kaum Sari, Cibuluh, Bogor, Jawa Barat, yang diluncurkan Rabu (29/11/2017), sekaligus melakukan peletakan batu pertama (ground breaking).

“Kami sediakan lahan, perusahaan asing yang bangun,” kata Au Bintoro, pendiri dan pemilik Olympic Group. Merangkul mitra asing menjadi pengalaman pertama Olympic Group setelah sejak tiga tahun lalu masuk ke bisnis properti.

Sebelumnya melalui anak usaha PT Olympic Bangun Persada, Au mengembangkan proyek apartemen Olympic Residence di Sentul, Bogor, berkolaborasi dengan PT HK Realtindo, anak BUMN Hutama Karya yang menggarap bisnis properti. Menurut Au, developer asing khususnya China memiliki ritme kerja yang cepat dengan kualitas produk yang setara. “Mereka punya kecepatan kerja. Kalau bangun apa-apa cepat selesai,” jelasnya.

Dalam hal pembiayaan pengembang asing juga dinilai memiliki dana lebih besar dengan bunga jauh lebih rendah. “Investor asing itu tidak bisa dicegah masuk. Mereka punya banyak duit, sementara kita nggak ada duit, hanya tanah,” ujar pemilik prinsip hidup ‘selalu bahagia’ ini.

Pengalaman membangun gedung dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi juga menjadi kekuatan lain pengembang asing. “Mereka punya teknologi konstruksi yang sudah maju sehingga proses konstruksinya bisa lebih cepat dan efisien. Itu saja sudah bisa potong cost, harga propertinya jadi lebih murah,” urainya lagi.

Olympic City akan berisi apartemen, rumah tapak, perkantoran, mal, area komersial, pusat pendidikan, rumah sakit dan lain-lain. Pengembangan aneka properti itu berikut rupa-rupa fasilitas penunjangnya diperkirakan menelan investasi total Rp20 triliun.

“Proyek ini akan menjadi kebanggaan warga Bogor karena selain lahannya luas, di dalamnya nanti super lengkap. Aksesnya bagus sekali, hanya 50 meter dari exit tol terdekat di jalan tol lingkar luar Bogor (BORR),” ungkap Au.

Sebagai tes pasar, pengembang menawarkan 130 rumah di klaster Pine Garden tipe 52-79/72-106 m2 seharga Rp700 juta-1,1, miliar/unit akhir Desember ini. Kuartal pertama 2018 akan dipasarkan tiga menara apartemen enam lantai untuk kalangan menengah ke bawah. Tipe unitnya mulai dari studio 22 m2 seharga Rp250 juta.

“Nanti kita kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan supaya pekerja yang jadi peserta BPJS TK bisa membelinya. Kalau beli dengan KPA (bersubsidi), bunganya hanya lima persen flat 15 tahun,” katanya. Akhir 2018 ia juga menyiapkan North Park, dua menara apartemen setinggi 40 lantai.

“Fase kedua (pengembangan Olympic City) kerja samanya dengan Country Garden. Mereka yang membiayai, kami modal lahan dan tenaga. Pendeknya, nggak ada masalah kalau pengembang asing masuk dan mau joint (dengan developer Indonesia). Yang penting mereka bawa teknologi dan duit,” tandas Au.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan