Megawati Saat Peluncuran Biografi Ciputra: Tegaskan Bahwa Anda Indonesia

Sabtu, 2 Des 2017 | Penulis: Yoenazh Khairul Azhar

Housing-Estate.com, Jakarta - Peluncuran biografi begawan properti Ciputra (86 tahun) “The Passion of My Life” di Jakarta, Rabu (29/11/2017), dihadiri banyak tokoh dari kalangan pemerintah, pebisnis dan bankir. Salah satunya Presiden ke-5 Indonesia Megawati Soekarnoputri.

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri (tengah) dan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (keempat dari kiri) usai menerima buku biografi Ciputra dari Ciputra (keempat dari kanan) dalam acara peluncuran buku di Jakarta, Rabu (29/11/2017).

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri (tengah) dan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (keempat dari kiri) usai menerima buku biografi Ciputra dari Ciputra (keempat dari kanan) dalam acara peluncuran buku di Jakarta, Rabu (29/11/2017).

Ciputra saat mengantarkan peluncuran bukunya menyatakan, Bung Karno berjasa besar terhadap karir bisnisnya karena merestuinya mengembangkan Proyek Senen dan Ancol melalui Grup Jaya. Sedangkan Megawati berjasa besar karena keberaniannya menuntaskan penyelesaian krisis moneter 1998 yang membuat pingsan hampir semua bisnis di Indonesia saat itu termasuk Ciputra Group, grup usaha yang didirikan dan dimiliki Ciputra beserta keluarganya. Dengan kebijakan itu, para konglomerat bisa melakukan konsolidasi dan memulihkan bisnisnya. “Tanpa (kebijakan) Ibu Mega itu, tidak ada Ciputra Group hari ini,” tegasnya.

Saat diminta memberikan sambutan terhadap biografi Ciputra itu, Megawati banyak bercerita sekaligus memberikan wejangan. Esensi wejangan tidak jauh dari soal politik. “Karena bisnis saya politik,” kata Ketua Umum PDI Perjuangan itu, yang langsung disambut tawa ratusan hadirin yang memenuhi Ciputra Artpreneur di Ciputra World Jakarta, Jl Prof Dr Satrio, Jakarta Selatan, tempat acara dilangsungkan.

Mega pun bercerita bagaimana ia pertama kali tahu nama dan profesi Ciputra dari ayahnya Bung Karno saat diajak jalan-jalan ke Marunda dan melewati pantai Ancol di Jakarta Utara, kemudian dikonfirmasi Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin waktu itu. Ayahnya menyatakan Ancol yang saat itu rawa-rawa dengan banyak monyet berkeliaran akan dikembangkan menjadi pusat rekreasi. Yang akan mengembangkan Ciputra. “Setelah itu saya mengikuti secara tidak langsung nama dan kiprah Ciputra,” kata salah satu putri Presiden RI pertama Soekarno itu.

Terkait keberhasilan pebisnis seperti Ciputra yang di Indonesia umumnya berasal dari etnis Tionghoa, Mega pun bercerita tentang posisi dirinya sebagai Ketua Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Kendati sebagai tokoh sudah berada di top ranking karena pernah menjadi wakil presiden, presiden, dan ketua partai terbesar sampai sekarang, ia tetap bersedia menjadi ketua dewan pengarah unit kerja di bawah Presiden Jokowi itu.

“Kalau untuk Pancasila, di manapun ditempatkan, saya mau. Orang bisa omong mau mengganti Pancasila (dengan ideologi lain). Tapi, saya mau tegaskan 100 persen, kalau tidak ada Pancasila (yang digagas Bung Karno), tidak ada negeri ini!” tegas Mega yang disambut tepuk tangan hadirin. Berkenaan dengan posisinya itu, Megawati pun menyebut istilah pribumi dan nonpribumi sebagai isu berbahaya yang mengancam Pancasila dan keutuhan Indonesia.

Nonpri umumnya diasosiasikan dengan warga negara keturunan Tionghoa karena umumnya mereka berhasil dalam bisnis, kendati perantau yang datang dari luar juga banyak dari India dan Arab. Istilah itu, jelasnya, dibuat Belanda sebagai politik pecah belah sekaligus penghinaan dengan memisah-misahkan masyarakat berdasarkan etnisnya. “Saya sudah tanya teman saya yang ahli genetika. Dia bilang, tidak ada yang asli Indonesia, semuanya perantauan,” kata Mega.

Sekarang di undang-undang (UU) tidak ada lagi istilah pri dan nonpri. Yang ada hanya warga negara Indonesia (WNI) dan warga negara asing (WNA). “Kalau sudah punya KTP dan paspor dengan cap Garuda, Republik Indonesia, berarti dia WNI! Itu harus anda katakan dengan tegas. Keraguan menyatakannya dengan tegas, membuat isu pri dan nonpri itu makin marak. Tidak usah takut soal agama (dan etnis anda yang berbeda). Itulah perlunya Bhinneka Tunggal Ika (di lambang negara Garuda Pancasila). Harus ada toleransi. Tidak perlu menimbulkan dan menganjurkan kebencian di negeri ini. Negeri ini dibangun melalui kerja sama semua etnis dan golongan,” tandas Mega.

Ia pun meminta masyarakat melihat dan berkaca ke negara-negara di Timur Tengah yang penduduknya sebenarnya satu etnis dan bersaudara, tapi sampai sekarang terus berkonflik dan sulit didamaikan, antara lain karena minimnya toleransi. “Sangat memprihatinkan,” pungkas ibu dari Puan Maharani, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, itu.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan