Developer Asing Betah Garap Proyek Properti di Indonesia

Kamis, 7 Des 2017 | Penulis: Putri

Housing-Estate.com, Jakarta - Jumlah penduduk yang menembus 262 juta jiwa hingga 2017 dan masih terus tumbuh, membuat potensi pasar properti di Indonesia tetap prospektif. Developer asing pun kian tertarik menjaring cuan dengan menggeber sejumlah proyek properti di Indonesia.

Direktur Tokyu Land Indonesia Tai Horikawa dan Tasuku Kinoshita saat menunjukkan proyek kondominium Branz BSD di BSD City, Serpong, Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu. (Foto: Dok. Tokyu Land Indonesia)

Direktur Tokyu Land Indonesia Tai Horikawa dan Tasuku Kinoshita saat menunjukkan proyek kondominium Branz BSD di BSD City, Serpong, Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu. (Foto: Dok. Tokyu Land Indonesia)

Perusahaan properti asal Jepang, Tokyu Land Coporation, melalui anak perusahaan PT Tokyu Land Indonesia (TLI) misalnya, sejak tahun 1975 sudah meluncurkan 10 proyek rumah tapak di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) bekerja sama dengan PT Hatmohadji dan Kawan. Sebut saja perumahan Kalibata Indah, Buncit Indah, Tanjung Barat Indah di Jakarta Selatan, Jatiwarna Indah, Bumi Asih Indah dan Sakura Regency 2-3 di Bekasi, Jawa Barat, serta Bojong Kulur Indah di Bogor, Jawa Barat.

“Berbagai macam perumahan itu kurang lebih sudah dihuni lebih dari 5.000 orang hingga hari ini,” kata Direktur TLI Tai Horikawa kepada housing-estate.com usai acara tutup atap apartemen Branz Simatupang di Jakarta, Kamis (30/11/2017).

Pada 2015 perusahaan meluncurkan dua proyek kondominium menengah atas bertajuk Branz BSD (5,3 ha/3.000 unit) di Serpong, Tangerang (Banten), dan Branz Simatupang (1,5 ha/381 unit) di koridor bisnis Jl RA Kartini-TB Simatupang, Jakarta Selatan. Kali ini tidak bermitra dengan developer local tapi dikerjakan sendiri. “Kedua proyek apartemen itu berjalan on the track,” katanya singkat.

Horikawa menyatakan, menurunnya populasi Jepang membuat bisnis properti di Negeri Sakura itu tak lagi menarik. Per 1 Januari 2017 populasi Jepang tercatat 123,5 jutaan jiwa, turun 308 ribuan disbanding tahun sebelumnya. “Itu terjadi selama delapan tahun terakhir. Bahkan selama 2016 ada 1,3 juta warga Jepang meninggal dunia, sementara angka kelahiran hanya 950 ribuan. Jumlah populasi yang ada saat ini pun didominasi orang tua di atas 65 tahun sekitar 27,2 persen, pemuda usia 14-35 tahun kurang dari 13 persen. Dibanding Indonesia, kalah jauh,” terangnya.

Ia menyatakan, Tokyu Land berkomitmen menjaga kepercayaan konsumen di Indonesia. “Orang Indonesia mulai sadar dengan peningkatan kualitas hidup. Karena itu kami tidak main-main merancang dan membangun proyek kami. Teknologi dan spek bangunannya harus nomor satu,” ujarnya.

Tentang gejolak politik dan pelemahan ekonomi ia tidak begitu ambil pusing karena proyek properti umumnya dikembangkan dalam jangka panjang. “Nanti masalah-masalah itu termasuk suhu politik akan menurun dengan sendirinya. Kalau terlalu mempersoalkan masalah politik dan ekonomi, bisnis akan sulit berjalan,” kata Horikawa.

Selain Branz, saat ini Tokyu Land juga mengembangkan 100 rumah tapak di Yogyakarta bernama Jogja Eco Park. Di atas lahan seluas 3 ha itu dipasarkan rumah dua lantai seharag Rp1-2 miliar per unit. “Itu proyek joint venture sejak 2015, kami sebagai pengembangnya,” ungkap Horikawa.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan