Pakai Panel Surya, Tagihan Listrik Bisa Hemat Rp1 Jutaan

Minggu, 10 Des 2017 | Penulis: Putri

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Salah satu cara menekan konsumsi energi konvensional adalah dengan memasang panel surya di atap. Dengan panel surya, kebutuhan listrik di rumah dari pagi hingga sore bisa terpenuhi dari cahaya matahari.

Salah satu rumah di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, yang menggunakan panel surya dari ATW Solar. (Foto: Dok. ATW Solar)

Salah satu rumah di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, yang menggunakan panel surya dari ATW Solar. (Foto: Dok. ATW Solar)

Ketua Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap (PPLSA) Bambang Sumaryo kepada housing-estate.com bercerita, empat tahun lalu dirinya memasang panel surya dengan berkapasitas 4,4 Kilo Watt peak (KWp) di atap rumahnya. Untuk memasang panel surya dengan kapasitas sebesar itu ia merogoh kocek Rp88 juta. “Itu total biaya solar panel, inverter dan instalasi,” katanya dalam acara peluncuran panel surya ATW Solar di Jakarta pekan lalu.

Biaya itu masih terbilang mahal karena pemerintah belum terlalu mendorong investasi energi baru dan terbarukan (EBT) selain teknologinya waktu belum semaju sekarang. “Tahun ini lebih murah, hanya Rp12 juta per kWp. Dalam 3-4 tahun harganya sudah turun 30 persen,” katanya.

Listrik sebesar 4,4 kWp itu bisa menghidupkan seluruh peralatan elektronik di rumahnya selama 8 jam sejak 08.00-16.00 WIB, mencakup 1 pesawat TV, 3 AC, 1 mesin cuci, 8 lampu berdaya 6-20 watt. Saat matahari terbenam, baru rumahnya kembali mengandalkan listrik PLN. “Jadi sistemnya ongGrid, terkoneksi dengan jaringan PLN,” ujarnya.

Berkat panel surya itu, ia bisa menghemat tagihan listrik di rumah sekitar Rp1 jutaan per bulan. Sebelumnya tagihannya Rp1,3-1,5 juta per bulan, sekarang mentok Rp300 ribu per bulan. “Nanti di tagihan ada kWh ekspor-impor. Ekspor itu berapa jumlah listrik dari inverter atau meteran dua arah yang terkirim ke jaringan PLN, sedangkan impor berapa jumlah listrik yang diterima meteran rumah dari PLN,” terangnya.

Sumaryo mengakui, biaya awal pemasangan panel surya masih tinggi, tapi dalam jangka panjang lebih menguntungkan. “Delapan tahun baru balik modal. Memang cukup pusing karena semuanya dibeli depan, beda dengan PLN yang setiap bulan kita seperti mengangsur. Tapi kalau lihat tagihan listrik berkurang segitu banyak, sebetulnya sudah surplus,” katanya.

Terhalang banyak aturan

Surmayo menyayangkan penggunaan panel surya di Indonesia masih sangat minim. “Masih kecil sekali 0,001 persen atau baru 80 Mega Watt peak (MWp). Padahal, Thailand saja sudah hampir 3.000 MWp, Vietnam sudah di atas 800 MWp, Filipina sudah 1.000 MWp,” jelasnya.

Penyebabnya, regulasi yang belum terlalu mendukung implementasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) baik skala kecil maupun besar, seperti belum tersedianya solar park atau taman energi surya berkapasitas 200-400 MWp.

Bahkan, dalam Peraturan Menteri ESDM No 1/2017, ditegaskan, siapapun yang memasang PLTS lebih dari 30 kWp harus membayar sejumlah biaya bulanan ke PLN.

“Ini mempersulit sekali. Seharusnya diberi insentif dong. Malaysia saja sudah menerapkan feed in tariff. Jadi kelebihan listrik dari panel surya yang dipasang oleh setiap warganya dibeli pemerintah dengan harga lebih tinggi daripada harga mereka menjual listrik ke warga,” tuturnya.

PPLSA sendiri bersama Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM menggulirkan gerakan sejuta listrik surya atap. “Tahun depan paling tidak terpasang PLTS 1000 MWp. Kita terus sosialisasi dan edukasi serta mencari solusi-solusi teknis yang memungkinkan harga panel bisa diturunkan,” kata Sumaryo. PPLSA sendiri terdiri dari 200 anggota di seluruh Indonesia yang telah menggunakan panel surya dengan daya 1.300-33.000 watt.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan