Tiga Arsitek Indonesia Raih Penghargaan Kompetisi Konstruksi Berkelanjutan Asia Pasifik

Senin, 11 Des 2017 | Penulis: Diyah

Housing-Estate.com, Jakarta - Konstruksi berkelanjutan di Asia Pasifik memiliki makna tersendiri bagi pembangunan masyarakat. Ini terlihat dari berbagai proyek yang memenangkan LafargeHolcim Awards ke-5 untuk Asia Pasifik yang diserahkan di Kuala Lumpur, Malaysia, 23 November 2017 lalu.

Tiga tim arsitek Indonesia peraih LafargeHolcim Awards 2017 tingkat Asia Pasifik berfoto bersama Guru Besar Arsitektur Universitas Indonesia Prof Gunawan Tjahjono (kanan) dan Oepoyo Prakoso, Sustainable Development Manager Holcim Indonesia (kiri) di Jakarta , Jumat (8/12/2017). (Foto: HousingEstate/Susilo Waluyo)

Tiga tim arsitek Indonesia peraih LafargeHolcim Awards 2017 tingkat Asia Pasifik berfoto bersama Guru Besar Arsitektur Universitas Indonesia Prof Gunawan Tjahjono (kanan) dan Oepoyo Prakoso, Sustainable Development Manager Holcim Indonesia (kiri) di Jakarta , Jumat (8/12/2017). (Foto: HousingEstate/Susilo Waluyo)

Tiga proyek dari Indonesia membawa pulang masing-masing Silver Award dalam kategori utama, Acknowledgement Award dan Next Generation Award yang berfokus pada peningkatan kualitas edukasi melalui keterlibatan masyarakat dan meningkatkan kondisi lingkungan secara berkelanjutan.

LafargeHolcim Awards adalah kompetisi tiga tahunan yang mengapresiasi proyek konstruksi dan desain yang berkelanjutan (sustainable) berhadiah total USD2 juta. Kompetisi yang digelar oleh produsen Semen Holcim ini memberikan pengakuan kepada konstruksi dan desain yang menonjolkan respons berkelanjutan atas berbagai isu teknologi, lingkungan, sosial ekonomi, dan budaya yang memengaruhi konstruksi kontemporer, dan menawarkan solusi visioner terhadap cara kita membangun.

Tahap pertama kompetisi diadakan di lima wilayah dan pemenang di masing-masing wilayah maju ke tahap global. Kompetisi di wilayah Asia Pasifik diikuti lebih dari 5.000 pendaftar dengan 1.100 proyek yang berhasil lolos untuk diseleksi. Peserta dari Indonesia tercatat paling banyak memasukkan karyanya.

“Setiap sayembara punya misi dan tujuan, tapi tujuan akhir kompetisi ini bukan award melainkan membangun dunia lebih baik. Kami memilih bangunan yang memihak pada khalayak banyak, bukan bangunan yang hebat dan besar,” kata Prof Gunawan Tjahjono pada LafargeHolcim Awards Media Gathering di Jakarta, Jumat (8/12).

Menurut Guru Besar Arsitektur  Universitas Indonesia  yang menjadi salah satu anggota juri dalam Lafarge Holcim Awards ini, peserta dari Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan mutunya semakin baik dan terbukti bisa meraih tiga penghargaan kali ini. “Tradisi kita mengajarkan harus maju, sesedikit apa pun majunya,” ujarnya. Berikut karya-karya arsitek Indonesia yang memenangkan Lafarge Holcim Awards ke-5 itu. Diyah

Microlibrary, Bandung, Jawa Barat

Arsitek: SHAU, Bandung

 

Foto: Dok. Lafarge Holcim

Foto: Dok. Lafarge Holcim

Peraih Silver Award pada Kategori Utama.

 

Proyek perpustakaan mikro yang digagas untuk meningkatkan minat baca masyarakat mulai dari tingkat lingkungan kecil. SHAU yang digawangi Daliana Suryawinata dan Florian Heinzelmann menamainya Microlibrary.

Ada 6 titik proyek yang sudah berjalan di Bandung, Jawa Barat, dari 10 yang direncanakan. Proyek berlokasi di sebuah taman dengan desain mirip sirip-sirip beton yang  teratur dengan baik. Sirip beton dirancang sekaligus sebagai struktur bangunan, rak-rak buku dan estetika. Microlibrary tidak hanya menyediakan perpustakaan umum, tetapi juga fasilitas penyimpanan, toilet umum, dan musala.

Juri mengomentari proyek ini terbuka semua sisinya ke arah taman yang mengelilinginya, mengundang masyarakat untuk masuk dan menjelajahinya sehingga bangunan ini menjadi titik penting untuk lingkungan sekitarnya dan membantu masyarakat dengan mendorong minat baca.

 

Pusat Pelatihan Pertanian Organik, Parung, Bogor, Jawa Barat

Arsitek: pppooolll, Jakarta

Foto: Dok. Lafarge Holcim

Foto: Dok. Lafarge Holcim

Peraih Acknowledgement Award, penghargaan khusus di tingkat regional.

 

Karya dari Kamil Muhammad dan Brahmastyo Puji ini berencana mempromosikan pertanian organik di pedesaan pulau Jawa dengan menyediakan pusat pelatihan bagi para petani muda bekerja sama dengan Urban Poor Consortium, organisasi nirlaba untuk pemberdayaan masyarakat kota. Bangunan memanfaatkan material bambu yang tumbuh di lokasi lahan. Kesederhanaan bentuk yang diciptakan membuat masyarakat merasa dekat dan familiar untuk berkegiatan di dalamnya.

Sekolah Multifungsi, Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur

Arsitek: SASO, Jakarta

Foto: Dok. Lafarge Holcim

Foto: Dok. Lafarge Holcim

Peraih penghargaan kategori Next Generation untuk mahasiswa dan profesional hingga usia 30 tahun.

 

School Hub adalah konsep yang dikembangkan Andi Subagio dan dua rekannya untuk renovasi sebuah sekolah kejuruan di Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Berada di pulau Flores, destinasi baru wisata Indonesia, desain sekolah dibuat multifungsi sebagai pusat komunitas dan obyek wisata. Konstruksi memanfaatkan batako yang banyak diproduksi di wilayah setempat dan struktur bambu.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan