Konsumen di Jakarta Makin Suka Beli Apartemen dengan Kredit Bank

Jumat, 12 Jan 2018 | Penulis: Putri

Housing-Estate.com, Jakarta - Konsumen apartemen menengah di Jakarta makin suka membeli unit apartemen dengan kredit pemilikan apartemen (KPA). Mengutip riset konsultan properti Colliers International Indonesia, kalau tahun 2013 hanya 16 persen konsumen yang membeli dengan KPA, tahun 2017 meningkat 100 persen menjadi 32 persen. Sementara yang membayar secara tunai bertahap mencapai 50 persen dan tunai keras 18 persen.

 

Ilustrasi apartemen di Jakarta. (Foto: Susilo Waluyo/HousingEstate)

Ilustrasi apartemen di Jakarta. (Foto: Susilo Waluyo/HousingEstate)

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto menyebutkan, hal itu bisa terjadi karena bank-bank makin berani menurunkan suku bunga promo KPA ke level 7-9 persen per tahun fixed (tetap) selama 2-3 tahun pertama. “Itu cukup menarik walaupun prosesnya merepotkan. Terutama bagi first home buyer (pembeli rumah pertama) yang suka terkendala dengan penyediaan uang muka dan besaran cicilan kredit per bulan. Apalagi, depe-nya juga lebih fleksibel dari 15 persen sekarang bisa 10 persen atau bahkan lima persen,” katanya saat memaparkan Jakarta Propety Outlook kuartal IV 2017 di Jakarta, Selasa (9/1/2018).

Ferry mengakui, cara bayar tunai bertahap dengan menyicil langsung ke rekening developer yang berisiko tinggi masih mendominasi cara pembelian apartemen, mencapai 50 persen dibanding 2013 yang 63 persen.

“Kalau proyek nggak sesuai ekspektasi, konsumen hanya bisa protes ke developer. Tapi kenapa masih paling disukai? Karena motif terbesar orang beli apartemen masih (sebagai rumah kedua dan seterusnya) untuk investasi (disewakan atau dijual lagi). Kalau pakai KPA kan ada aturan rasio kredit terhadap agunan atau loan to value (LTV) untuk pembelian rumah kedua dan seterusnya, uang mukanya lebih tinggi. Jadi, nggak cocok untuk investor,” terangnya.

Selain itu skim cara bayar tunai bertahap masih paling diminati, karena sekarang developer juga makin berani menawarkan tenor cicilan yang lebih panjang, kendati sebenarnya jadi lebih beresiko lagi bagi konsumen. “Di tengah kondisi pasar yang seret begini, developer juga makin berani. Tadinya cicilan bertahap 3-5 tahun, sekarang bisa sampai 100 bulan, bahkan lebih,” jelas Ferry.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan