Dari Menabung, Pinjam Koperasi Sampai Nyicil Sama Orang Tua

Sabtu, 3 Feb 2018 | Penulis: Yoenazh Khairul Azhar

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Rumah adalah pengeluaran terbesar seseorang selama hidupnya. Di kota-kota besar di Indonesia, bagi kebanyakan orang memiliki rumah sendiri adalah perjuangan berat yang menguras daya dan dana.

Bukan hanya karena rumah sudah menjadi komoditas yang membuat harganya cepat melesat, tapi juga karena sukarnya mencari lokasi yang cocok. Tanah di lokasi yang baik sudah sangat terbatas dan mahal dibanding jumlah penduduk yang bertambah cepat. Jadi, sudah sangat sulit mengembangkannya menjadi hunian dengan harga terjangkau.

Ilustrasi : Rumah Menengah Foto : Majalah Housing Estate

Ilustrasi : Rumah Menengah Foto : Majalah Housing Estate

Karena itu proses panjang dengan aneka upaya, siasat, dan akrobat pun dilakukan orang agar bisa punya rumah sendiri, mengikuti hukum besi mencari rumah di dunia kapitalis: lihat 100 rumah, seleksi menjadi 10, kerucutkan jadi 3, pilih 1 di antaranya.

Pengalaman warga Jabodetabek dan Sidoarjo ini mungkin bisa menjadi inspirasi anda untuk segera membeli rumah. Mumpung harga rumah stagnan tiga tahun terakhir dan posisi tawar konsumen di pasar sekarang kuat.

Sebagian besar mereka adalah generasi milenial (lahir 1980–menjelang tahun 2000) dan sudah bekerja dan/atau berumah tangga. Yang sudah berumah tangga, menggabungkan penghasilan (suami istri) agar bisa membeli rumah. Yang masih lajang, berbagi beban dengan kerabat atau saudara. Tentu saja yang mampu mereka beli rumah mungil tipe 22–36 saja. Tidak masalah. Yang penting sudah punya rumah sendiri!

Dinda Anggreani (29)
Ibu Rumah Tangga

Menabung Dari Awal

Saya membeli rumah tipe 36/120 di perumahan Bojong Gede Pura Arista di Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dua tahun lalu. Waktu itu harganya Rp300 jutaan. Saya dulu bekerja di salah satu radio swasta di Jakarta antara tahun 2011–2014 setelah lulus kuliah. Tahun 2015 saya berhenti kerja dan jadi ibu rumah tangga saja.

Waktu kerja di radio ada kabar pengembangan perumahan khusus untuk wartawan di Citayam dan Cilebut. Tapi, waktu kita (suami istri) survei ke sana, nggak jelas perumahannya di mana. Tapi, dari survei itu saya jadi tahu daerah Cilebut, Citayam, Bojong Gede, dan sekitarnya. Akhirnya kita putuskan cari rumah di daerah-daerah itu karena tanah di kawasan masih luas. Jadi, saya bisa lebih leluasa cari yang harganya terjangkau dan kavelingnya cukup besar. Selain itu akses transportasinya juga enak karena ada kereta komuter.

Waktu nyari rumah itu saya masih ngontrak di Ciledug (Kota Tangerang-Banten) setelah menikah. Awal menikah kita tinggal dengan orang tua di Karawaci (Kabupaten Tangerang), tahun berikutnya ngontrak rumah, tahun ketiga sejak Oktober 2014 mulai cari rumah sendiri. Maret 2015 dapat rumahnya ready stock (siap huni).

Karena memang sudah niat beli, kita sudah siapkan dana walaupun uang tabungan saya dan suami habis untuk bayar depe dan lain-lain. Depe-nya Rp15 juta, biaya dan bea termasuk biaya KPR sekitar Rp48 juta. KPR-nya dari Bank BTN karena developernya sudah kerja sama. Jangka waktunya 20 tahun dengan bunga promosi setahun pertama 10,7%. Sekarang cicilannya Rp2 juta per bulan.

Kalau ditanya puas atau tidak dengan rumah yang sekarang, ya puas aja. Saat ini saya sudah merenovasi dapur karena saat dibeli dapurnya belum ada. Habis sekitar Rp25 juta. Ke depan mau renovasi lagi, bikin taman di depan dan nambah kamar.

 

Novriyadi (32)
Karyawan Perusahaan Online

Kredit Melalui Orang Tua

Saya beli rumah seken tahun 2012 di perumahan Kota Harapan Indah (KHI), Bekasi, Jawa Barat, beberapa bulan setelah menikah. Saya sendiri kerja di perusahaan swasta di Jakarta sejak tahun 2008. Rumahnya dua lantai di atas tanah 90 m2, luas bangunannya saya lupa. Harganya Rp360 juta dari penawaran awal Rp400 juta ditambah pajak dan lain-lain sekitar Rp13 juta.

Saya pilih rumah seken karena kalau rumah baru harganya pasti lebih mahal, nggak ada lagi yang harga segitu (di KHI). Selain itu kalau seken bisa lebih fleksibel, saya berhubungan langsung dengan pemilik rumah dan bisa tawar menawar harga.

Setelah dibeli rumah harus sedikit direnovasi plafon, genteng dan sanitasinya, juga dicat ulang. Habis sekitar Rp20 juta. Saya cari rumah melalui situs jual-beli rumah, terus lihat lokasinya bagus apa nggak.

Saya pilih di Bekasi karena mendapatkan rumah di Jakarta sudah sangat susah dan tinggi harganya. Selain itu rumah di perumahan besar di Bekasi itu saya lihat bagus untuk investasi. Faktor lain, kebetulan di Kota Harapan Indah ada saudara. Dia juga bantu mensurvei lokasi rumah yang saya pilih.

Saya beli rumah itu cash. Nggak pakai KPR karena saya nggak mau ribet. Kebetulan juga saat itu saya ada rezeki dan sebelum menikah sudah menabung untuk beli rumah. Uang tabungan saya digabung dengan uang tabungan istri (untuk beli rumah). Istri saya kerja di bank. Kekurangannya sekitar 30 persen saya pinjam duit orang tua saya. Orang tua saya yang PNS pinjam uang di bank, saya kemudian mengangsur setiap bulan kepada orang tua.

Enaknya pinjam sama orang tua, nyicilnya bisa telat dan nggak ada bunganya kayak di bank. Alhamdulilah utang sama orang tua itu sudah lunas. Sekarang rumahnya saya kontrakin setahun Rp12 juta. Saya sendiri tinggal dengan orang tua saya di Kali Malang, Bekasi, karena istri belum lama melahirkan anak kedua. Saya akan pindah ke rumah yang kita beli itu kalau nanti anak-anak sudah agak besaran, sekitar 4–5 tahun.

 

Dedi Ariyanto (26)
Pekerja Industri

Dapat KPR Bersubsidi     

Saya membeli rumah di Villa Emas Persada, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi-Jawa Barat, akhir Oktober 2015. Saya beli tipe 36/60 ready stock seharga Rp126 juta. Kebetulan saya kerja di Cikarang, jadi saya pilih rumah di Cikarang. Modal nekat aja sebenarnya. Sempat kaget waktu lihat uang mukanya Rp30 juta karena saya hanya pegawai biasa. Bagaimana cara memenuhinya?

Developer memang menawarkan kemudahan, bayar depe dulu Rp10 juta, yang Rp20 juta lagi diangsur dua bulan. KPR-nya dari Bank BTN, KPR bersubsidi, bunganya hanya 5 persen per tahun, jangka waktu 16 tahun. KPR-nya diurus developer, saya tinggal melengkapi surat-surat yang diperlukan.

Tapi depe Rp10 juta itu juga saya belum punya. Akhirnya saya telepon orang tua pinjam uang. Selama ini setiap bulan saya kirim uang ke orang tua di kampung (di sebuah kota di Jawa Tengah). Maksudnya untuk disimpan atau buat keperluan mereka. Akhirnya mereka pakai uang yang rutin saya kirim itu ditambah uang dari menggadaikan BPKB sepeda motor dan lain-lain.

Soalnya memang dadakan banget, dikasih waktu lumayan singkat sama developernya (untuk membayar DP). Saya sendiri ngekos sejak tahun 2008 saat sewa rumahnya masih Rp250 ribu sebulan sampai menjadi Rp500 ribu. Uang segitu sudah cukup untuk nyicil rumah. Jadi saya pikir, sekarang saatnya beli rumah sendiri.

Kalau niat beli rumah sih sudah sejak tahun 2013. Tapi, ya gitu. Ada yang cocok lokasinya, depe-nya nggak cocok. Depe-nya kecil, lokasinya tidak cocok. Akhirnya ketunda-tunda. Baru tahun 2015 terlaksana. Saya tahu harga properti terus meningkat. Kalau tidak beli sekarang, harganya makin tak terjangkau. Tahun 2015 waktu ada pengangkatan pegawai tetap, teman-teman nyaranin segera beli rumah.

Saya kerja di perusahaan yang sekarang setelah tamat SMK tahun 2008 dan belum pernah pindah. Waktu beli rumah itu saya masih kos tidak jauh dari pabrik, sekitar 15 menit pakai motor. Rumah yang saya beli akad kreditnya Maret 2016. Nanti dari rumah lebih dekat lagi ke tempat kerja, sekitar 10 menitan.

Saya nyicil sekitar Rp900 ribu per bulan. Buat saya lumayan berat. Apalagi selama beberapa bulan pertama saya juga harus ngangsur depe yang Rp20 juta itu. Kalau hanya mengandalkan gaji, susah. Untungnya masih ada lemburan (di pabrik).

 

Nastalia Suaranto (38)
Karyawan Swasta

Dua Tahun Mencari  

Saya beli rumah tahun 2011 di Alamanda Regency, Karang Satria, Tambun Utara, Kabupetan Bekasi-Jawa Barat. Itu rumah baru inden (pesan dulu serah terima sekian bulan kemudian) tipe 22/66 seharga Rp99 juta.

Saya lahir di Jakarta tapi pernah tinggal di Bekasi bersama orang tua. Nyari rumahnya cukup lama, sekitar dua tahun. Saya cari melalui internet. Kalau lagi nggak kerja, saya ke warnet untuk searching rumah. Hampir setiap hari saya ke warnet.

Pernah juga survei langsung ke salah satu proyek perumahan ISPI di Bekasi Timur, mau take over rumah orang lain. Tapi nggak jadi karena kondisi bangunannya sudah parah. Akhirnya setelah cari-cari lagi, ketemu Alamanda Regency. Saya pilih di situ karena tidak jauh dari rumah orang tua dan harganya terjangkau.

Depe rumah Rp20 juta saya bayar dari duit tabungan dan pinjem orang tua. KPR-nya dari Bank BTN, KPR bersubsidi 10 tahun, waktu itu bunga masih 7,5 persen per tahun. KPR-nya diurus developer karena kerja sama dengan Bank BTN. Cicilan rumah sekitar Rp800 ribu per bulan dibayar suami saya.

Sebenarnya kalau ditanya puas atau tidak, saya kurang puas dengan rumahnya karena kualitas bangunannya begitu (kurang memuaskan, Red). Saya harus banyak renovasi. Mulai dari tembok, cat, plafon, atap asbes, pompa dan toren air, semua harus diganti, septic tank juga harus dibongkar. Renovasi dilakukan tahun 2013. Saya agak lupa biayanya waktu itu. Yang jelas sekarang sudah layak huni.

Saat ini rumah ditempati saudara saya. Saya sendiri ngontrak di Slipi, Jakarta Barat, karena saya kerja di Jakarta Selatan. Capek kalau harus ulang-alik Bekasi–Jakarta tiap hari. Nanti rumah itu saya tempati sendiri bersama keluarga.

 

Edi Kasmadi (39)
Desainer Grafis

Jual Motor Kesayangan  

Saya beli rumah di perumahan Wahana Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, tahun 2003 setelah kerja sejak tahun 1998 selepas SMA. Rumahnya tipe 36/60 inden seharga Rp35 juta. Setelah jadi beberapa bulan kemudian langsung saya tempati.

Saya sudah agak lama menikah, istri kerja sebagai wiraswasta, jualan karpet untuk warga komplek. Saya sendiri sekarang kerja di creative commucation factory sebagai design graphic di bilangan Pondok Indah, Pondok Pinang, Jakarta Selatan.

Saya pilih di Bekasi karena harganya murah dan lokasinya tidak terlalu jauh dari tol JORR (Pondok Pinang–Taman Mini–Cikunir), juga dari kawasan Cibubur. Di sekitarnya juga ada mall untuk hangout bareng teman atau keluarga. Kantor saya di Pondok Indah tidak terlalu jauhlah dari rumah, masih di perbatasan Jakarta Timur–Bekasi.

Saya beli pakai KPR BTN 10 tahun, bunga 7,5 persen setahun. Kalau bayar tunai, uangnya nggak cukup. Depe dan biaya-biayanya waktu itu sekitar Rp12 juta saya bayar dari tabungan dan hasil jual motor kesayangan. Selain itu saya juga kerja side job untuk nambah dana (cicilan) per bulan. Cicilan bulanannya (sekarang) nggak berat, hanya Rp450 ribu.

Dulu sebelum beli rumah, saya kos di daerah Condet, Jakarta Timur. Saya mikir, daripada bayar uang kos Rp500 ribu per bulan, kenapa tidak beli rumah sendiri. Waktu rumah mau ditempati, saya renovasi sedikit, bikin kanopi, habis Rp10 jutaan.

Kalau ditanya puas atau belum dengan rumah ini, saya bilang belum, karena bangunannya kecil. Saya ingin rumah yang lebih besar lagi. Saya pilih rumah (tapak) di pinggiran Jakarta ketimbang apartemen di tengah kota, selain karena harganya lebih mahal, di apartemen kita hanya beli bangunan, tidak ada tanahnya.

 

Arlinda Fitria (24)
Pekerja Perusahaan Ritel

Pinjam Duit Koperasi 

Saya beli rumah tipe 30/90 tahun 2012 di Quality Garden Residence, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur. Harganya Rp125 juta. Saya sendiri begitu lulus SMA tahun 2009 langsung kerja di sebuah perusahaan ritel sampai sekarang. Awalnya keluarga saya tinggal di rumah nenek bersama keluarga saudara bapak yang lain. Total satu rumah diisi 16 orang. Sumpek dan kurang nyaman. Apalagi anak-anak makin besar.

Tahun keempat kerja, ada informasi pengembangan rumah untuk karyawan bekerja sama dengan seorang pengembang. Saya ikut pesan meskipun lokasi rumah agak jauh dari tempat kerja. Ternyata dari puluhan karyawan yang pesan, hanya aplikasi KPR saya yang disetujui Bank BNI. Alasannya, track record kerja saya bagus. DP rumah sekitar Rp6 juta bisa dicicil empat bulan, ditambah biaya dan bea termasuk biaya KPR sekitar Rp20 juta yang juga boleh diangsur delapan bulan. Periode kredit 15 tahun, bunga 12 persen setahun pertama. Setelah itu cicilannya tergantung bunga (pasar di) BNI, katanya sekitar Rp1 jutaan/bulan.

Karena waktu itu nggak punya tabungan untuk bayar depe dan lain-lain, saya pinjam uang di koperasi karyawan kantor. Jadi, untuk membayarnya gaji saya dipotong tiap bulan. Karena gaji dipotong, padahal juga harus nyicil KPR, cicilan motor pun belum lunas, saya harus pintar-pintar ngatur uang. Apalagi orang tua sudah nggak kerja.

Saya berbagi beban dengan kakak. Saya nyicil rumah, dia nanggung biaya bulanan seperti listrik, makan, sekolah adik, dan lain-lain. Yang belum terpikirkan waktu itu perabotnya. Pas serah terima rumah, baru sadar kalau rumah belum ada perabot.

Karena itu setelah utang ke koperasi lunas, saya ngajuin pinjaman lagi untuk beli perabot. Kebetulan perusahaan memfasilitasi karena memang perusahaan ritel. Jadi gaji saya dipotong lagi setiap bulan. Tapi, nggak apa-apa, sekarang saat masih lajang saya sudah punya rumah sendiri. Orang tua tidak harus umpel-umpelan lagi tinggal di rumah nenek.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan