Stadion Olimpiade ini Akan Dihancurkan Setelah Penutupan Acara

Kamis, 15 Feb 2018 | Penulis: Nta

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Menjadi kota atau negara penyelenggara olimpiade tentu menjadi kebanggaan. Kota tidak saja makin ternama seantero jagat dan menarik wisatawan mancanegara untuk dating pada saat dan sesudah acara. Warga kota pun sumringah, karena biasanya akan ada infrastruktur dan fasilitas kota yang baru dan berkelas dunia. Terutama fasilitas olah raga berupa stadion untuk segala macam cabang olah raga.

Stadion Pyeongchang (Foto: DeZeen)

Stadion Pyeongchang (Foto: DeZeen)

Tapi perlu diingat, semua pembangunan atau penambahan infrastruktur dan fasilitas baru itu berbiaya besar. Anggaran kota dan sponsor jadi sumber dana yang paling diharapkan. Sayangnya, banyak kota yang kemudian harus berhutang demi mendapat gengsi penyelenggara olimpiade. Alih-alih mendapatkan pemasukan dari pemanfaatan semua fasilitas baru tersebut, kota justru terbebani anggaran pemeliharaannya. Rio de Janeiro adalah contohnya. Sejumlah venue olimpiade di ibukota Brazil itu terbengkelai selepas penyelenggaraan acara tahun 2016.

Khusus untuk kota penyelenggara “Winter Games” (istilah olimpiade musim dingin), International Olympic Committee (IOC) juga memperingatkan mengenai banyaknya stadion yang akan menjadi white elephants alias gedung besar yang tak termanfaatkan.

Belajar dari pengalaman itu, Korea Selatan (Korsel) tak mau jatuh ke lubang yang sama. Dan ini dibuktikan pada penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin 2018 dalam pembangunan stadion Pyeongchang. Stadion utama berkapasitas 35.000 tempat duduk (termasuk 160 kelas VIP) ini bersifat temporer, bahkan ada yang menyebutnya pop-up stadium.

Pasalnya, stadion hanya akan ada selama acara berlangsung, 9-25 Februari 2018, atau mungkin diperpanjang hingga Winter Paralympic, Maret 2018. Sesuai sifatnya, usai upacara penutupan yang diperkirakan memakan waktu empat jam, stadion akan dipreteli. Menyisakan gedung utamanya yang akan dijadikan sebagai museum olimpiade musim dingin ini.

Stadion berdiri di lahan 80.000 m2, dibangun kontraktor lokal DaeLim Construction. Pembangunan stadion berbentuk segilima ini berbiaya 116 miliar won atau sekitar Rp1,54 triliun.Bangunannya tidak beratap, juga tidak berpenghangat, padahal saat olimpiade berlangsung suhu di sini bisa mencapai minus 14 derajat celcius.

Disebut-sebut ini adalah Winter Games dengan cuaca terdingin  setelah acara yang sama tahun 1994 di Lillehammer, Norwegia. Ketiadaan atap dan penghangat udara itu, mengutip Business Insider, lebih untuk menekan anggaran. Sebagai kompensasi, panitia menyediakan selimut, sarung tangan dan penghangat telinga, kepada semua penonton acara pembukaan dan penutupan di stadion itu.

Ilustrasi lahan bekas Stadion Pyeongchang (Foto: Citylab)

Ilustrasi lahan bekas Stadion Pyeongchang (Foto: Citylab)

Dengan penduduk kota 40.000 orang, membangun stadion besar, tentu mubazir. Apalagi kota yang tidak jauh dari perbatasan Korea Utara itu termasuk wilayah termiskin di Korsel. Tentunya pemeliharaan fasilitas megah ini berbiaya besar dan akan memberatkan anggaran pemda setempat, juga pemerintah pusat.

Untuk penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin 2018 Korsel menggelontorkan dana 12,9 miliar dolar AS atau lebih dari Rp175 triliun. Jauh di atas biaya yang diperkirakan semula yang “cuma” 8 miliar dolar AS atau Rp108 triliun. Sebanyak 1,5 miliar dolar AS sudah dipakai untuk membangun Alpensia Sky Resort.

Fasilitas ini sedianya sebagai venue untuk upacara pembukaan dan penutupan acara, namun dikhawatirkan mengganggu jadwal lomba sehingga diputuskan membuat stadion baru. Maklum resort yang berjarak dua kilometer dari stadion baru itu menjadi venue utama untuk cabang-cabang olah raga ski jumping, biathlon, cross-country skiing, dan luge.

Sejatinya stadion temporer untuk penyelenggaraan Winter Games bukan kali ini saja. Hal serupa sudah pernah dilakukan pada Winter Olympic 1992 di Albertville, Prancis. Bentuknya menyerupai tenda sirkus berstruktur besar. Sebelumnya bagian dari tenda itu pernah dipakai pada Olimpiade musim panas 1992 di Barcelona, Spanyol. Juga bukan sebagai stadion utama, pada Olimpiade London 2012 dan Rio 2016, stadion temporer juga pernah dibangun untuk tempat lomba beberapa cabang olah raga.

Sumber: DeZeen, Arch Paper, Business Insider & Citylab

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan