Ada Masalah Jakarta yang Lebih Besar Dari Macet Dan Banjir

Rabu, 21 Feb 2018 | Penulis: Yudis

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Selama ini masalah utama Ibukota Jakarta disebut kemacetan lalu lintas dan banjir yang juga rutin menggenangi sejumlah bila hujan lebat. Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang PS Brojonegoro, ada masalah lain yang lebih besar yang dihadapi Jakarta.

Kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) Jakarta (Foto: scbd.com)

Kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) Jakarta (Foto: scbd.com)

“Macet dan banjir itu (masalah) yang paling terlihat dan dirasakan sehingga dianggap masalah besar. Kita tidak sadar ada persoalan air bersih dan air limbah di Jakarta yang sudah gawat. Ini tidak terlihat sehingga tidak dianggap sebagai masalah,” katanya saat menjadi keynote speech diskusi “Jakarta dan Permasalahannya” yang diadakan Perhimpunan Studi Pengembangan Wilayah di Jakarta, Rabu (21/2).

Bambang merinci permasalahan yang dianggapnya gawat tersebut. Hampir semua bangunan di Jakarta baik rumah tinggal maupun gedung bertingkat mengambil air dengan cara mengebor sumur bawah tanah. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dari PDAM belum bisa menyuplai seluruh wilayah Jakarta, bahkan yang sudah ada jaringan PDAM-pun tetap melakukan pengeboran karena alasan air PDAM kecil dan tidak mencukupi.

Makin tinggi gedung di Jakarta, makin dalam pengeboran airnya dan ini membuat permukaan tanah Jakarta semakin amblas dengan rata-rata 6 cm penurunannya setiap tahun. Selain itu limbah Jakarta juga masih ditampung di septic tank yang rawan bocor dan ujungnya mencemari sumber air bawah tanah yang terus disedot secara massif itu.

Seharusnya kota modern tidak lagi menggunakan septic tank tapi sudah memiliki waste management yang terpusat dan dikelola dengan baik. Saat ini Jakarta baru memiliki dua persen sistem ini yang sudah diterapkan di Setiabudi, Jakarta Selatan, dan sedang dibangun lagi di wilayah Jakarta Barat.

“Jakarta tidak didesain dengan infrastruktur dari awal dan kotanya kadung berkembang dengan pesat. Kota besar tapi infrastrukturnya kampong, makanya disebut kampung besar. Tentu hal ini tidak didiamkan dan mulai kita benahi. Makanya perlu dibuat otoritas yang levelnya kawasan. Untuk transportasi sudah ada Jabodetabek, urusan air dan limbah ini juga harus begitu karena tidak bisa diselesaikan Jakarta sendiri,” jelas mantan menteri keuangan itu.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan