Hotel Budget di Hong Kong Berubah Jadi Co-Living Spaces

Rabu, 7 Mar 2018 | Penulis: Nta

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Tinggal bersama (co-living), baik dalam jangka pendek kala berlibur atau pun jangka panjang, makin jadi tren di kalangan profesional muda.  Terutama Hong Kong, dimana tarif sewa apartemen makin tak terjangkau, membuat permintaan dari kalangan tersebut kian meningkat. Di daerah otonomi khusus ini makin sulit menemukan apartemen bertarif di bawah 10 ribu dolar Hong Kong (sekitar Rp 17,6 juta)  per bulan. Hal ini membuat mereka rela berbagi kamar atau kamar mandi, dengan sesama profesional, di apartemen yang juga mungil, yang penting harganya terjangkau.

Mojo Nomad Aberdeen Harbour. (Foto: Tripadvisor)

Mojo Nomad Aberdeen Harbour. (Foto: Tripadvisor)

Hal tersebut membuka peluang bagi gedung apartemen lawas untuk membuat propertinya jadi co-living space. Belakangan, pemilik/pengelola hotel budget juga melakukan hal tersebut. “Akhir-akhir makin banyak hotel diubah jadi co-living space,” kata Alvin Leung,  Associate Director of Valuation Advisory Services at Jones Lang LaSalle (JLL). Yang diubah memang bukan hotel berbintang, tapi kelas budget yang lokasinya di daerah bukan tujuan utama pelancong, baik untuk bisnis atau liburan. Istilahnya non-core area seperti Kwun Tong industrial area dan Tsing Yi.

Karena bertarif murah hotel-hotel di situ biasanya jadi langganan wisatawan asal Tiongkok daratan. Tentu bukan dari kelas atas, yakni mereka yang datang biasanya untuk belanja, baik kebutuhan harian macam pakaian, susu dan keperluan bayi lainnya sampai gaya hidup. Tapi aktivitas ini sejak 2015 sudah dilarang sehingga rombongan pelancong dengan tujuan wisata seperti itu berkurang drastis. Akibatnya, tingkat hunian hotel-hotel tadi langsung merosot.

Beberapa operator hotel yang sudah melakukan antara lain Hotel 36 di Prince Edward dan C2 Hotel di Sham Shui Po yang sudah bersalin jadi M3 International Youth Apartment. Selain itu Ovolo Hotel Aberdeen Harbour di Shek Pai Wan Road, Wong Chuk Hang, yang kini bernama Mojo Nomad. Diubah sejak Desember 2017, Mojo Nomad kini merangkum 65 kamar dan 250 tempat tidur.

Tanpa bermaksud meremehkan turunnya wisatawan pebelanja asal Tiongkok, menurut Girish Jhunjhnuwala, Founder and CEOof Mojo Nomad and Ovolo Hotels Group, perubahan dilakukan lebih karena melihat ada kenaikan permintaan dari pelancong muda yang kerap berpindah tempat tinggal dan kerja. “Hotel kami yang lain di daerah Central, juga sedang kami ubah untuk jadi co-living dan akan dirilis di tengah tahun ini,” katanya.

Menurut Jhunjhnuwala, ada kelebihan dari co-living space yang berawal dari hotel dibandingkan apartemen. Jika perijinannya hotel bisa dijadikan tempat tinggal dengan sewa harian.  Sementara jika ijin peruntukannya apartemen masa tinggal minimum harus satu bulan.  Pendeknya, co-living yang memiliki ijin hotel bisa menerapkan masa tinggal kepada penyewa secara lebih fleksibel.

Para operator co-living space ini mengutip tarif sewa mulai 250 dolar Hong Kong (Rp 440 ribu) per malam untuk kamar yang bisa dihuni delapan orang. Kalau mau privasi alias tidak berbagi ruang, tarif sewa minimal 3.500 dolar Hong Kong (Rp 6,150 juta) per malam. Kamarnya termasuk luas, setidaknya bisa menampung 14 orang. Jika masa tinggal lebih lama, pengelola akan memberi diskon. Tarif ini sekitar setengah dari tarif hotel empat bintang di dekatnya, seperti L’hotel Island South, sebesar 555 dolar Hong Kong (Rp 975 ribu) per malam.

Pemilik/operator hotel ini rela melakukan perubahan tidak lain karena keuntungan sewa yang didapat. Menurut Leung, keuntungan sewa dari proyek co-living ini bisa mencapai 3,36 persen per tahun. Lebih tinggi jika masih dipertahankan sebagai apartemen yang hanya memberi untung tiga persen per tahun. Bahkan kalau skema sewanya lebih fleksibel  keuntungan bisa berlipat hingga 12,1 persen.

Denis Ma, Head of Research at JLL, mengatakan kalau hotel dan wisma dengan kamar-kamar yang berukuran kecil adalah properti yang paling pas untuk diubah, karena hanya membutuhkan sedikit renovasi. “Pengelola bisa mengubah area restoran jadi area publik yang bisa dipakai penghuni bersama,” imbuhnya.

Jhunjhnuwala mengungkapkan, biaya untuk mengubah hotel seluas 2.400 m2 di area senilai 400 juta dolar Hong Kong (Rp 700 miliar) sebesar 60 juta dolar Hong Kong atau sekitar Rp 105 miliar. Pihaknya yakin investasi tersebut bisa kembali dalam setahun.  Sebab, tingkat hunian bisa tetap 70 persen, sementara jumlah tempat tidur bertambah. Tingkat hunian itu sendiri adalah rata-rata tingkat hunian hotel di Hong Kong saat ini.   Saat ini di Hong Kong ada enam pengelola hotel yang juga menawarkan layanan co-living. Karena dinilai menguntungkan dalam dua tahun ke depan ada tiga operator lain yang juga akan buka jasa serupa.

Sumber: South China Morning Post

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan