Tidak Mampu Sendirian, Bisa Beli Patungan

Senin, 12 Mar 2018 | Penulis: Yoenazh Khairul Azhar

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Makin lama hunian di perkotaan makin sulit dijangkau kaum muda karena harganya kian melangit. Keinginan membeli hunian itu makin rendah karena perubahan gaya hidup menyusul revolusi digital satu dasawarsa terakhir.

apartemen bisa beli patungan

“Mereka  terkesan tidak mementingkan punya rumah. Fokusnya kerja, dapat duit, jalan-jalan atau hangout. Mereka nggak mau lagi cara hidup konvensional. Sekolah, kerja, menikah lalu beli rumah. Sebagian menganggap beli rumah itu berat karena harus ngutang sekian tahun,” kata Norman Eka Saputra, Direktur PT Pancakarya Griyatama, pengembang apartemen Skandinavia (1,8 ha/1 menara/1.004 unit) di superblok TangCity (10,9 ha), Cikokol, Kota Tangerang (Banten), kepada housing-estate.com.

Mensiasati situasi itu, Eka pun menawarkan program co-ownership (kepemilikan bersama) yang memungkinkan apartemen dibeli oleh maksimal tiga orang secara urunan.

Skema serupa sudah dilansir di proyek Pancakarya lain di Serpong, Kota Tangerang Selatan (Banten), Tree Park City (2,1 ha/4 menara), setahun lalu. Dengan bisa dibeli bersama, cicilannya jauh lebih ringan karena dibayar patungan. Skim bisa dimanfaatkan siapapun, tidak hanya orang muda.

“Urunan dibatasi maksimal tiga orang supaya gampang ambil keputusan saat voting,” jelasnya.

Misalnya, apartemen tipe studio 36 m2 seharga Rp580 juta yang dibeli secara tunai bertahap, tanda jadi (booking fee)-nya Rp20 juta, sisanya tinggal dicicil langsung ke rekening developer Rp14 juta per bulan selama 60 bulan.

“Kalau belinya patungan tiga orang, booking fee-nya kan nggak sampai Rp6 juta per orang, sedangkan angsuran kurang dari Rp5 juta per bulan per orang,” kata anak Amin Supriyadi, pemilik proyek hunian terpadu Galuh Mas (180 ha) di Karawang Barat, Jawa Barat, itu.

Urunannya tidak harus dengan kerabat, bisa dengan teman atau rekan bisnis. Saat membayar uang tanda jadi, dalam surat konfirmasi pemesanan tertera ketiga nama pembeli apartemen. Begitu pula di sertifikatnya kelak. Sementara NPWP cukup diwakili salah satu pembeli.

“Dalam praktek ada konsumen yang beli sharing tapi hanya pakai satu nama. Pembagian aset dan hasil sewa (kalau ada) dengan mitra sharing diatur terpisah sama mereka,” ungkap Eka. Praktik terakhir ini mungkin cocok untuk pembelian dengan kredit bank (KPR/KPA) supaya tidak ribet legalitasnya.

Besaran sharing depe, cicilan, pajak, sampai biaya iuran pengelolaan apartemen nanti harus sudah disepakati semua pembeli sebelum bertransaksi. Begitu juga bila apartemen nanti disewakan, pembagian hasil sewanya sudah disepakati sesuai besaran modal masing-masing. “Kalau modal sama rata, ya hasil sewa apartemennya juga dibagi rata,” ujarnya.

Sejak dipasarkan Agustus tahun lalu, sampai awal tahun ini di apartemen Skandinavia sudah ada delapan unit yang dibeli secara co-ownership.

“Mereka anak muda, mahasiswa sekaligus (pemilik) start up (usaha rintisan),” terangnya. Skandinavia menawarkan unit tipe 1-3 kamar tidur seluas 36-112 m2 seharga Rp16,5 juta/m2. Saat ini unit terpesan sudah 600 unit.

Sementara di Tree Park sudah ada 15 unit yang dibeli secara patungan. Di Tree Park setiap unit bahkan bisa dibeli maksimal oleh tujuh orang. Unit studio 25 m2 seharga Rp385 juta bila dibeli oleh tujuh orang, angsurannya hanya Rp1 juta/bulan/orang. Saat ini menara pertama Tree Park (456 unit) sudah terpesan 75 persen.

Umumnya konsumen belum sadar membeli properti bisa sharing dan sertifikatnya bisa multinama. Karena itu Eka merasa perlu memperkenalkannya. “Karena skema ini bisa menolong orang (yang penghasilannya terbatas) membeli properti,” katanya.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan