Country Garden Bangun Apartemen Senilai Rp 7,75 Triliun di London

Kamis, 5 Apr 2018 | Penulis: Nta

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Pengembang terbesar dari segi penjualan di Tiongkok, Country Garden, baru saja membeli sebidang lahan di daerah Poplar, London Timur, Inggris. Lahan itu dibeli dengan nilai 80 juta poundsterling atau sekitar Rp1,55 triliun. Ini disebut-sebut investasi Country Garden terbesar kedua di luar negeri setelah mega proyek di Malaysia, Forest City, yang belakangan dikabarkan penjualannya mulai terseok-seok.

Proyek Ailsa Wharf, London. (Foto: The Times)

Proyek Ailsa Wharf, London. (Foto: The Times)

Di Indonesia, di megapolitan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), Country Garden dikenal dengan proyek apartemen terpadu Skyhouse (8,3 ha) di kawasan kota baru BSD City (6.000 ha), Tangerang, Banten, yang akan terdiri atas 12 menara apartemen dilengkapi taman gantung setinggi tujuh lantai, fasilitas komersial dan rekereasi, dan lain-lain.

Dengan menggandeng sebuah lembaga keuangan asal Hong Kong yang tak disebutkan namanya, Country Garden membeli proyek Ailsa Wharf dekat Sungai Leamouth dari dua pengembang lokal: Galliard Homes dan Lindhill.

Mengutip South China Morning Post, salah satu petinggi Country Garden mengatakan lahan itu akan dikembangkan menjadi proyek properti senilai 400 juta poundstreling atau setara Rp7,75 triliun.

Tahap pertama proyek akan merangkum 789 unit hunian yang terbagi dalam 556 unit apartemen dan 229 unit rumah subsidi serta empat unit vila. Fasilitasnya antara lain toko-toko dan ruang terbuka hijau. Direncanakan pembangunan sudah bisa dimulai pada musim panas sekitar tengah tahun ini dan tahap pertama rampung tahun 2021.

Sementara mengacu pada situs resmi pemerintah kota London, Ailsa Wharf adalah proyek peremajaan perkotaan dengan peruntukan multifungsi yang akan merangkum sekitar 782 unit hunian yang tersebar dalam 13 menara setinggi 3-16 lantai, dilengkapi jalur sepeda, ruang parkir, taman hijau dan ruang terbuka publik. Rencana ini sudah pernah diajukan ke pemerintah kota London pada tahun 2016. Setelah sempat ditahan untuk dilakukan revisi, baru Desember 2017 rencana tersebut akhirnya disetujui.

Bukan pelarian modal

Besarnya nilai investasi tersebut dinilai banyak orang cukup mengejutkan. Pasalnya pemerintah Beijing masih ketat mengendalikan warga negaranya yang akan berinvestasi ke luar negeri termasuk pengembang properti. Namun Country Garden menilai pihaknya tidak melanggar kebijakan dalam negerinya.

“Pembelian di London itu dibiayai oleh dana dari luar negeri. Jadi masih sesuai dengan kebijakan negara,” ujar salah satu petinggi Country Garden. Lagi pula, imbuhnya, Ailsa Wharf ini menyasar pasar lokal. Berbeda dengan proyeknya di Malaysia yang bernilai 100 miliar dolar AS (Rp1.375 trilun) selama 20 tahun, menyasar pasar asing selain pasar orang Tiongkok.

Hal itu dinilainya akan ikut mendorong “pelarian” modal ke luar negeri. Akibat pengetatan kebijakan oleh pemerintah China itu, jika tahun 2016 pembeli asal Tiongkok bisa memberi hasil penjualan sebanyak 10 miliar yuan (Rp22,66 triliun), tahun lalu untuk proyek Forest City cuma 8 miliar yuan (Rp18 triliun).

Bagi Inggris investasi Country Garden itu menggembirakan. Seperti dinyatakan Donagh O’Sullivan, Chief Executive Galliard kepada harian setempat Standard, “Dalam kondisi politik yang tidak menentu seperti sekarang, dengan banyaknya ketidakpastian dari isu perdagangan internasional dan Brexit, naiknya peran Tiongkok daripada AS (dalam perdagangan dunia), investasi yang besar dari Country Garden ini ibarat sokongan untuk Inggris.”

Sejatinya Country Garden bukanlah satu-satunya investor yang masuk ke  pasar properti Inggris belakangan ini. Seperti dikabarkan CoStar News, Zhaotai Group, pengembang asal Beijing, membeli sebuah gedung perkantoran di 45 Cannon Street, London, dari Morgan Capital Partners senilai 147 juta pound (Rp2,81 triliun). Gedung yang berlokasi di pusat kota seluas 7.525 m2 itu berkategori grade A dan dilengkapi dengan ruang ritel dan aneka restoran.

Pada Agustus lalu Dalian Wanda rencananya juga menanamkan modal senilai 470 juta pound di proyek Nine Elms. Namun, Januari 2018 One Nine Elms, salah satu gedung yang masih dalam tahap pembangunan itu, dilego. Selain karena tekanan dalam negeri yang menilainya sebagai pelarian modal China ke luar negeri, juga untuk membayar hutangnya.

Menurut Savills, setelah peristiwa Brexit nilai poundsterling terus merosot sehingga harga properti di Inggris dinilai murah bagi banyak investor asing, terutama investor Tiongkok yang memang doyan belanja properti di luar negeri.

Properti di negeri Ratu Elizabeth II itu makin menarik karena pasarnya dikenal transparan, produknya berkualitas, bisa disewa jangka panjang dengan nilai yang selalu naik.

Investor Tiongkok termasuk Hong Kong adalah pembeli asing terbesar di pasar properti London. Tahun lalu berdasarkan data Jones Lang LaSalle, nilainya mencapai 7,34 miliar pound atau lebih dari Rp142 triliun.

Sumber: South China Morning Post & Standard.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan