Nggak Mau Kan Udah 40 Tahun dan Menikah Masih Tinggal Sama Orang Tua?

Sabtu, 21 Apr 2018 | Penulis: Yoenazh Khairul Azhar

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Meskipun tetap berminat, banyak kaum muda milenial yang enggan segera membeli rumah antara lain karena sudah keder duluan melihat harganya yang ratusan juta sampai miliaran. Padahal, kata Wakil Ketua Umum Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Indonesia Bidang Properti Hendro S Gondokusumo, ketakutan itu tidak perlu karena semua bisa disiasati.

beli rumah milenial

“Salah satunya dengan segera merencanakan membeli rumah sejak mulai bekerja. Beli rumah atau properti itu bukan mission impossible bagi kaum milenial,” kata pria yang akan mengadakan acara Ngobrol Properti bareng Kadin Indonesia dengan tema “Kapan Beli Properti” di Jakarta, Kamis (26/4/2018) di 57 Promenade, Graha Niaga Thamrin, Jl Kebon Melati 5, Jakarta Pusat, melalui siaran pers di Jakarta, Rabu (18/4/2018). Acara mulai pyukul 10.00 pagi itu bisa diikuti kaum muda secara gratis.

Ia tidak menampik, pembelian rumah merupakan pengeluaran terbesar seseorang dalam hidupnya sehingga butuh modal banyak. Tapi, hal itu bisa disiasati dengan mencari rumah yang skema pembayarannya paling meringankan. Saat ini banyak pengembang yang menawarkannya. “Selain itu yang terpenting membuat rencana keuangan sejak awal bekerja untuk membeli rumah dengan menabung 20–30 persen dari gaji untuk uang mukanya,” katanya.

Pilihan rumahnya juga masih banyak yang terjangkau seperti rumah sederhana dalam Program Sejuta Rumah dan apartemen yang dikembangkan dengan konsep transit oriented development (TOD) di jalur transportasi massal seperti kereta, MRT dan LRT yang sekarang ramai dibangun.

Ia mengakui, sebagai investasi, rumah atau properti tidak likuid alias tidak bisa segera diuangkan. Penjualannya butuh waktu. Namun, properti adalah investasi yang paling aman dengan kenaikan harga yang cenderung stabil. Properti yang dibeli tiga tahun lalu Rp400 juta di Tangerang (Banten), sekarang sudah Rp600 juta alias naik rata-rata 15 persen per tahun, jauh di atas pendapatan bunga deposito dan kenaikan nilai emas atau valuta asing.

“Investasi properti harus dilihat dalam perspektif jangka panjang. Selain itu untuk investasi kamu bisa cari rumah yang laku disewakan, dijadikan kos-kosan atau penginapan (dalam jaringan berbagi),” tutur Chief Executive Officer (CEO) PT Intiland Development Tbk itu.

milenial home grafik

Berkaitan dengan itu, Hendro menegaskan, jangan ragu membeli rumah di lokasi yang agak jauh dari pusat kota. Indonesia adalah negara yang masih terus berkembang. Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata lima persen per tahun saja, pada akhirnya rumah di lokasi yang jauh itu akan berkembang juga dalam 10–15 tahun ke depan. “Apalagi, pemerintah saat ini gencar membangun infrastruktur sehingga akses dari perumahan itu ke berbagai penjuru makin mudah,” katanya.

Supaya mudah dan aman, milenial bisa membeli rumah di proyek yang dikembangkan perusahaan developer yang namanya sudah dikenal bagus, dan pembelian dilakukan dengan KPR dari bank. “Dengan KPR dari bank, pembelian rumah bisa lebih ringan karena bisa dicicil dalam jangka waktu yang panjang. Pengembang umumnya sudah memfasilitas pengurusan dokumen dan legalitas rumah serta pengajuan KPR-nya ke bank. Jadi. konsumen tidak perlu pusing soal dokumen dan legalitasnya,” katanya.

Hendro pun mengingatkan tentang prinsip Yolo (you only live once) alias hidup hanya sekali. Saat ini milenial mungkin lebih memprioritaskan menikmati hidup dan cari pengalaman dengan traveling, hangout, pendidikan, kumpul dengan komunitas dan sejenisnya. Hunian mungkin ada di prioritas urutan buncit, bukan sesuatu yang penting atau mendesak untuk diwujudkan.

“Padahal, hidup hanya sekali. Dan, mempersiapkan hidup nyaman harus dimulai sedini mungkin. Tidak mau kan sampai umur 40 tahun, sudah menikah, masih tinggal sama orang tua?” kata Hendro. Untuk lebih jelasnya tentang kapan sebaiknya beli rumah dan seluk beluknya, ia mengajak milenial menghadiri acara Ngobrol Properti Bareng Kadin Indonesia itu. Informasinya bisa diakses di www.kadin-indonesia.or.id.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan
  • Luke

    Ini ada benarnya. “Supaya mudah dan aman, milenial bisa membeli rumah di proyek yang dikembangkan perusahaan developer yang namanya sudah dikenal bagus, dan pembelian dilakukan dengan KPR dari bank.”
    Bagaimana dengan developer gak jelas yang janji2 tapi gak kunjung bangun? Contohnya Prioritas Land Indonesia dengan K2 Park dan Indigo Bekasinya. Dari 2013-2014 jualan, tapi sampai sekarang tidak ada bangunan, customernya luntang lantung, dipaksa tetap bayar cicilan.
    Tsk tsk.. Indonesia kota berkembang, tapi aturannya tidak memadai. Perusahaan2 yang beroperasi dengan cara gak jelas seperti Prioritas Land Indonesia dan presdir2 seperti Marcellus Chandra bisa merajalela dan beroperasi seenak jidat.
    Kadin bisa mengecek kah? Proyek2 PT. Prioritas Land Indonesia banyak yang mandek, tapi tetap minta customer bayar cicilan. Itu layak kah? Bukan termasuk penipuan kah?