Lim Saineng: Punya Uang, Beli Tanah, Langsung Bangun

Rabu, 20 Jun 2018 | Penulis: Joy

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Redaksi majalah HousingEstate tidak sengaja bertemu Lim Saineng (51), owner Cipta Group, di kantornya Jalan Pembangunan, Komplek Windsor Central, Batam, Kepulauan Riau, pertengahan tahun lalu. Awalnya kami hanya membuat janji dengan Lastiliwarman (Chici), Manager Marketing grup usaha itu. Di tengah perbincangan masuk Sai, panggilan akrab Lim Saineng, menanyakan awards yang baru saja diterima perusahaannya sebagai pengembang peraih omzet penjualan tertinggi di Property Expo 2017 yang digelar di sebuah mall terbesar di Kota Batam. Kami pun diperkenalkan Chici dengan Sai dan akhirnya sepakat membuat janji wawancara sore harinya di tempat yang sama sebelum kembali ke Jakarta.

Lim Saineng, owner Cipta Group

Lim Saineng, owner
Cipta Group

Bapak dua anak ini mengaku orang pulau (Pulau Buluh) yang merantau ke Batam. Awalnya sebagai karyawan, lalu jadi pemborong proyek-proyek kecil sebelum akhirnya mendapatkan kepercayaan dari seorang bos asal Malaysia untuk jadi subkontraktor pemasangan keramik sebuah proyek hotel yang kini jadi Hotel Haris di Batam Centre. Setelah punya modal dan pengalaman yang cukup, Sai mendirikan perusahaan kontraktor PT Ciptatama Dimensi Prima. Proyek yang dikerjakannya antara lain pembangunan sejumlah pabrik di kawasan industri Batamindo, menjadi kontraktor Hotel Holiday Inn di Marina City serta perumahan Taman Duta Mas yang dikembangkan Sinar Mas Land di Batam Centre, dan lain-lain.

Suatu saat Sai bertemu orang bank yang memberinya informasi, kebutuhan perumahan di Batam tinggi sekali. “Dia menyarankan kalau ada yang menawarkan tanah murah, beli untuk dikembangkan jadi perumahan,” katanya.  Singkat cerita mulai saat itu keuntungannya sebagai kontraktor dipakai untuk belanja tanah. Lahan pertama yang dibelinya berlokasi di Batu Aji di koridor Trans Barelang (jalan utama yang menghubungkan pulau Batam, Rempang, dan Galang di Kepulauan Riau). Awalnya ia mengajukan izin pembelian lahan 100 ha ke Badan Otorita Batam. Namun, karena uang wajib tahunan otorita (UWTO) saat itu naik tiga kali lipat dari Rp6.000/m2 menjadi Rp18.000, akhirnya ia hanya sanggup belanja tanah 30 ha.

Tahun 1998 Sai pun menjadi developer dengan bendera PT Ciptatama Griya Prima (CGP). Tahap pertama ia bekerja sama dengan PT Tri Puri mengembangkan perumahan sederhana Permata Puri (4 ha) di Batu Aji. Setelah itu CGP mengembangkan proyeknya sendiri. Karena penjualannya bagus, jumlah proyeknya bertambah dengan cepat. Total sampai sekarang CGP sudah mengembangkan 56 proyek. “Pokoknya setiap punya uang saya belikan tanah dan langsung saya bangun,” ujarnya. Selain menjadi kontraktor dan developer, CGP juga memiliki lima hotel, tiga perusahaan supplier, produsen bahan bangunan, dan Sekolah Cipta College of Oxford. “Saya juga sedang mengembangkan bisnis restoran,” ungkapnya. Berikut petikan wawancara Joko Yuwono dan juru foto Susilo Waluyo dari HousingEstate dengan Sai tentang gurita bisnisnya.

 

Menurut informasi Cipta Group adalah developer terbesar di Batam saat ini?

Saya tidak merasa menjadi yang terbesar (sambil tersenyum dan menggelengkan kepala).

 

Sejak berdiri tahun 1998 sudah berapa rumah yang anda bangun?

Sudah 17 ribu lebih. Awalnya kami membangun rumah-rumah sederhana,  belakangan juga rumah menengah dan menengah atas, selain mengembangkan kawasan niaga terpadu.

 

Ada rencana membangun apartemen?

Sekarang memang lagi tren apartemen, teman-teman developer di Batam juga sudah banyak yang memasarkan. Terus terang kami pun sedang mempelajari, bahkan mulai menyiapkan gambar-gambar, juga konsepnya apakah hanya apartemen atau juga kondotel (apartemen yang dioperasikan sebagai hotel). Tanah kami di Batam yang cocok dibangun apartemen atau kondotel cukup banyak.

 

Seberapa luas stok tanah Anda?

Saya tidak ingat. Pokoknya setiap saya punya uang saya belikan tanah. Nanti saya kasihkan company profile Cipta Group. Di company profile disebutkan, proyek Cipta Group tersebar di 56 lokasi seluas total 603 ha. Sebanyak 99,5 persen berada di Pulau Batam, 0,5 persen di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Perinciannya, di Nagoya 1 proyek (1 ha), Batam Centre dan Kabil 11 proyek (35,5 ha), Tiban dan Sekupang 6 proyek (92 ha), Dapur Duabelas, Marina dan Tanjung Uncang 7 proyek (67 ha), Tembesi dan Batu Aji 19 proyek (330,5 ha), Tanjung Piayu 9 proyek (71 ha), dan Tanjung Pinang (Pulau Bintan) tiga proyek (6 ha).

 

Dari sekian banyak proyek Anda, mana yang terbesar?

Paling besar Taman Cipta Asri. Awalnya 30 ha, sekarang berkembang jadi 90 ha. Makanya ada Taman Cipta Asri 1, 2, 3, dan 4 (seluruhnya menawarkan rumah tipe kecil sampai sedang). Sementara untuk rumah menengah ke atas seharga Rp400 jutaan hingga Rp3 miliaran ada di Cipta Green Ville (40 ha). Kedua perumahan berada di satu hamparan di Jl Trans Balerang, Batu Aji. Rencananya akan terus saya kembangkan hingga 200 ha dilengkapi berbagai fasilitas layaknya kota baru dengan nama kawasan Cipta Green City. Proyek besar Cipta Grup lain adalah Cipta Land (70 ha) di Tiban dan Buana Central Park (50 ha) di Tembesi. Khusus Buana Central Park, karena lokasinya sangat strategis di Tembesi, akan saya kembangkan jadi kawasan niaga terpadu terbesar di Kota Batam. Jumlah rukonya saja ada 1.000 unit lebih. Di dalamnya juga ada mall, pasar basah, hotel, city walk, apartemen, wisata danau, dan lain-lain. Sebagian lahannya yang ada di bagian dalam dijadikan perumahan.

 

Bagaimana Anda menangani proyek sebanyak itu?

Kami memiliki lima perusahaan. Yaitu, PT Ciptatama Graha Prima (17 proyek) yang berkantor di Nagoya sekaligus sebagai kantor pusat, PT Buana Cipta Propertindo (15 proyek) di Batu Aji, PT Rexvin Putra Mandiri (11 proyek) di Batam Centre, PT Devin Buana Perkasa (4 proyek) di Batu Aji, dan Jolin Permata Buana (3 proyek) juga di Batu Aji.

 

Ada rencana ekspansi ke luar Kepulauan Riau?

Ada. Kami sedang menyiapkan proyek di Pekanbaru (Riau), bahkan kantornya pun sudah ada. Kami juga mulai ekspansi ke (megapolitan) Jabodetabek. Karena di sana yang dihadapi developer-developer kelas kakap, sebagai pendatang baru kami mulai dari daerah pinggiran dulu. Kami sedang membebaskan tanah di Cibinong, Bogor-Jawa Barat.

 

Apakah Cipta Group memiliki properti lain di luar perumahan?

Kami memiliki lima hotel kecil-kecil. Yaitu, D’Vin Hotel di Tanjung Uncang, Sky Inn Express Hotel di Batam Centre, serta Fame Hotel, Sky Inn Hotel, dan Link Hotel di Batu Aji. Setiap hotel rata-rata memiliki 60-70 kamar, kecuali Fame Hotel 150 kamar. Dalam waktu dekat kami akan menambah satu hotel lagi dekat Bandara Hang Nadim setinggi tujuh lantai. Saat ini sedang dalam progress pembangunan. Kami juga banyak membangun pasar. Hampir semua kawasan niaga yang kami bangun di bagian tengahnya ada pasarnya. Ruko-rukonya dijual, pasarnya disewakan. Kami harapkan keberadaan pasar itu jadi stimulan ruko-rukonya menjadi cepat ramai. Caranya, pasarnya secara terus-menerus kami promosikan supaya makin banyak pengunjungnya. Biaya promosinya ditutup dari hasil sewa pasar. Sebagai developer kami punya tanggung jawab menghidupkan ruko-ruko yang telah diserah-terimakan, supaya punya daya tarik, banyak yang buka usaha, dan akhirnya makin meningkatkan nilai pasarnya. Kalau konsumen merasakan ada keuntungan membeli ruko Cipta Group, besar kemungkinan kalau kami membuka ruko baru di tempat lain, mereka akan membeli lagi.  Sudah banyak konsumen yang repeat order seperti itu. Contoh, di Buana Central Park belum satu tahun sudah terjual 1.000 ruko dan hampir 700 rumah. Harga rukonya mulai dari Rp600 jutaan per unit. Penjualannya sampai kami stop karena khawatir dengan proses pembangunannya nanti.

 

Kalau menyimak penjelasan Anda, sepertinya jadi developer di Batam enak sekali?

Sejak awal yang kami kembangkan hanya properti yang dibutuhkan masyarakat luas. Perumahan misalnya, yang kami kembangkan paling banyak rumah-rumah kecil. Begitu pula kawasan niaga, kami rancang yang harganya sesuai dengan daya beli pasar setempat. Kondisi pasar dan birokrasi waktu itu juga sangat mendukung. Dulu proyek dijual masih dalam bentuk gambar saja laku. Sekarang tidak, pesaingnya banyak. Birokrasinya juga tidak semudah dulu, terutama setelah pucuk pimpinan Badan Otorita Batam diganti semua. Birokrasinya terkesan idle, mungkin masih melakukan penyesuaian-penyesuaian sehingga banyak urusan yang terkait legalitas jadi terhambat.

 

Pendapat Anda dengan makin banyaknya developer nasional dan internasional masuk ke Batam?

Banyaknya kompetitor dari Jakarta dan mancanegara akan mendorong developer lokal men-develop lebih baik lagi. Developer dari Jakarta seperti Ciputra dan Agung Podomoro yang menitik-beratkan pada (peningkatan kualitas) lingkungan itu bagus sekali. Taman-tamannya dibuat hijau, dan asri. Jadi mau tidak mau kita juga harus mendandani lingkungan proyek kita (seperti itu). Proyek Cipta Group di Cipta Green Ville, Tembesi, misalnya, lingkungan rumah-rumah tipe 48-nya cantik sekali. Bahkan lebih cantik dari Cipta Residence (proyek Cipta Group lain di Nagoya) yang harga rumahnya sudah miliaran rupiah.

 

Apa tujuan Anda membesarkan Cipta Group?

Kami ingin Cipta Group menjadi salah satu perusahaan properti terbesar dan terpercaya di Indonesia.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan