Ekonomi Global Bergejolak, BTN Tetap Optimistis Capai Target

Jumat, 6 Jul 2018 | Penulis: Yoenazh Khairul Azhar

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Bank BTN tetap optimistis target tahun ini bisa tercapai meski kondisi ekonomi global bergejolak dan adanya kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dari 4,25 persen awal Mei menjadi 5,25 persen akhir Juni. Optimisme itu didukung oleh masih besarnya permintaan rumah yang masuk dalam program sejuta rumah.

Ilustrasi : Pameran Perumahan BTN Expo | Foto : Susilo

Ilustrasi : Pameran Perumahan BTN Expo | Foto : Susilo

Direktur Utama BTN Maryono mengatakan, perseroan sampai saat ini tetap dalam  Rencana Bisnis Bank (RBB) 2018 yang menargetkan penyaluran kredit tumbuh di atas 20 persen. Target itu akan tercapai seiring peran BTN yang sudah bisa menyalurkan (kembali) kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi dengan skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) pada semester dua tahun ini.

“Skema (dana subsidi) FLPP sangat berbeda sekarang. Sebanyak 75 persen di-cover pemerintah dan 25 persen disediakan SMF (PT Sarana Multigriya Finansial). Jadi, BTN tidak perlu mencari dana mahal lagi (untuk membiayai penyaluran KPR bersubsidi),” kata Maryono di sela-sela Rapat Koordinasi Business Review Triwulan II/2018 Bank BTN di Jakarta, Kamis (5/7/2018), seperti dikutip siaran pers Bank BTN yang dikirimkan kepada housing-estate.com pada hari yang sama.

Tahun ini Bank BTN menargetkan membiayai 750 ribu rumah dalam program pembangunan sejuta rumah pemerintah dibanding 667 ribu unit lebih realisasi tahun lalu. Yaitu, 536.868 unit rumah bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan 213.132 unit rumah nonsubsidi.

Ia  mengklaim, selama tiga bulan pertama 2018 Bank BTN sudah menyalurkan kredit perumahan senilai Rp24,25 triliun untuk 278.262 unit rumah atau 37,1 persen dari target. Terdiri dari KPR bersubsidi 44.407 unit senilai Rp5,36 triliun, KPR nonsubsidi 12.811 unit senilai Rp4,27 triliun, kredit konstruksi untuk rumah bersubsidi 131.801 unit senilai Rp3,66 triliun, dan kredit konstruksi untuk rumah nonbsubsidi 89.244 unit senilai Rp10,96 triliun. “Kami tetap menjadi pemeran utama program yang diinisiasi Presiden Joko Widodo itu,” ujar Maryono.

Berkaitan dengan itu ia mengimbau investor pemegang saham BTN yang sudah sejak 10 tahun lalu go public tidak khawatir dengan kinerja perseroan tahun ini, karena kenaikan suku bunga acuan BI itu tidak serta merta diikuti bank dengan menaikkan bunga dana dan kredit. Terlebih saat ini perseroan sedang menggenjot perolehan dana murah melalui tabungan agar berimbang dengan deposito.

Selain dari penyaluran KPR didukung peningkatan komposisi dana murah itu, lanjut Maryono, BTN juga diuntungkan dengan relaksasi aturan plafon kredit maksimal atau loan to value (LTV) properti yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) akhir Juni lalu. Dengan aturan tersebut diharapkan makin banyak masyarakat yang tertarik membeli rumah, yang akan makin mendukung optimisme pencapaian target Bank BTN.

Tentang penurunan harga saham BTN, menurut Maryono, hal ini lebih disebabkan adanya faktor global yang menyebabkan perubahan nilai valuta masing-masing negara, perpindahan dana antar negara, dan adanya perubahan suku bunga. “Semua itu dalam rangka normalisasi dan ini tidak bisa dihindari di semua negara,” jelasnya.

Menurut Direktur Keuangan & Treasury Bank BTN Iman Nugroho Soeko, pada kuartal I 2018 dibanding kuartal I 2017 Bank BTN membukukan outstanding penyaluran kredit Rp202,5 triliun atau meningkat 19,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang Rp169,68 triliun.

Dari jumlah itu kedit perumahan mencapai91,09 persen, naik 20,32 persen dari Rp153,31 triliun menjadi Rp184,46 triliun, kredit non perumahan 10,17 persen dari Rp16,37 triliun menjadi Rp18,03 triliun.

Karena pertumbuhan kredit itu, aset Bank BTN juga meningkat 20,73 persen dari Rp214,31 triliun menjadi Rp258,73 triliun. Dari penyaluran kredit itu Bank BTN mencatat kenaikan laba bersih 15,13 persen dari Rp594 miliar menjadi Rp684 miliar.

Sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 23,54 persen dari Rp157,41 triliun menjadi Rp194,48 triliun. Pertumbuhan terbesar terjadi pada tabungan yang mencapai 43,35 persen dari Rp30,74 triliun menjadi Rp44,06 triliun. Disusul giro dan deposito dengan pertumbuhan masing-masing 22,55 persen menjadi Rp51,14 triliun dan 16,87 persen menjadi Rp99,28 triliun.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan