Masih Langka Fintech yang Biayai Pemilikan Properti

Sabtu, 14 Jul 2018 | Penulis: Yoenazh Khairul Azhar

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Menyusul perkembangan teknologi informasi yang pesat, muncul juga inovasi jasa keuangan berbasis digital yang dinamai financial technology (fintech) atau teknologi finansial (tekfin). Transaksinya full online tanpa mempertemukan secara fisik pemilik dana/pemberi pinjaman (lender) dengan peminjam (borrower). Karena itu biaya operasional, kebutuhan pekerja dan peralatannya jauh lebih efisien dibanding lembaga pembiayaan konvensional seperti bank dan multifinance, dan proses kerjanya lebih cepat.

Pembukaan Indonesia Fintech Fair 2018 di Jakarta, Jum’at (13/7/2018). (Foto: dok housing-estate.com)

Pembukaan Indonesia Fintech Fair 2018 di Jakarta, Jum’at (13/7/2018). (Foto: dok housing-estate.com)

Fintech umumnya berupa perusahaan rintisan (startup) dengan target pasar korporasi (B2B) atau perorangan (B2C). Perusahaan fintech berfungsi sebagai penyedia market place (lapak) online yang mempertemukan langsung lender dan borrower (peer-to-peer). Fintech menyeleksi, menganalisis dan menyetujui aplikasi pinjaman yang masuk sebelum menawarkannya kepada lender. Terserah lender apakah akan memberikan pinjaman atau tidak.

Pinjaman bisa dipantau secara online baik oleh debitur maupun pemberi pinjaman. Untuk jasanya itu fintech menerima fee. Cara fintech menganalisis aplikasi kredit serupa dengan bank. Hanya, analisisnya jauh lebih cepat dan efisien karena dilakukan secara digital. Makin lengkap data nasabah, kian akurat analisis atau credit scoring-nya. Bahkan, dengan teknologi artificial intelligent yang memanfaatkan big data di dunia maya, para ahli menyebut akurasi analisis itu bisa lebih akurat dan cepat.

Karena itu masa depan fintech sangat cerah. Apalagi, kaum milenial makin ogah mendatangi kantor bank. Mereka ingin semua layanan keuangan bisa diakses dari gadget di genggaman tangan. Hanya saja sampai saat ini masih sangat langka fintech yang membiayai  bisnis properti. Salah satunya Gradana.co.id (Jakarta) yang sudah terdaftar di Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkoinfo) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Gradana melansir produk kredit uang muka dan sewa rumah (GraDP dan GraSewa).

Menurut Sebastian Togelang, pengurus Asosiasi Fintech Indonesia yang juga founding partners Kejora Ventures, masih sangat sedikitnya fintech yang membiayai pemilikan properti, karena properti masih banyak membutuhkan proses offline (pertemuan fisik) seperti melihat produk, legalitas, bertransaksi dan lain-lain. “Orang tidak bisa hanya lihat gambar ebelum beli properti, tapi tetap perlu lihat langsung. Proses transaksi dan legalitasnya juga butuh pertemuan fisik,” katanya kepada housing-estate.com usai pembukaan pameran Indonesia Fintech Fair 2018 “Fintech Transforming Life” di Jakarta, Jum’at (13/7/2018). Pameran yang berlangsung 13 – 15 Juli 2018 itu diikuti 26 pelaku fintech, satu mitra teknologi, dan satu perusahaan properti.

Angela Oetama, co-founder Gradana, berpendapat, masih langkanya perusahaan fintech yang membiayai properti, lebih karena pengelola juga harus memahami bisnis dan pasar properti dengan segala regulasinya, tidak hanya sisi pembiayaannya. “Masih jarang yang ngerti dua-duanya (bisnis properti dan kaitannya timbal balik dengan sistem dan mekanisme pembiayaannya). Jadi, bukan karena di properti masih ada proses offline, karena di pembiayaan UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) oleh fintech pun masih ada,” jelasnya.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan