Pilih Tinggal di Apartemen atau Rumah Tapak? (2) Testimoni Sejumlah Penghuni Apartemen

Jumat, 10 Agu 2018 |

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Macam-macam pengalaman dan pendapat orang tinggal di apartemen. Biaya yang harus dikeluarkan pun beraneka tergantung apartemen dan lokasinya. Di bawah ini adalah testimoni sebagian mereka yang tinggal di apartemen di Jakarta. Mereka tidak berkenan foto dirinya dimuat. Mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan anda sebelum memutuskan memilih hunian, antara apartemen di dalam kota atau rumah tapak di pinggiran.

Lingkungan Apartemen (foto : Susilo)

Lingkungan Apartemen (foto : Susilo)

Maria Rohali (28 tahun), karyawan swasta di distrik bisnis Mega Kuningan, Jakarta Selatan
Tipe dua kamar tidur 34 m2 apartemen Kalibata City
Jl Kalibata Raya, Jakarta Selatan

Lebih Bebas dan Praktis

Saya beli apartemen ini Rp300 juta seken awal 2017 dengan mengangsur tiga kali kepada pemiliknya. Saya lebih memilih apartemen karena lebih dekat atau mudah mencapai kantor. Apartemen juga lebih bebas dan praktis. Saya ngajak teman nginap, nggak diributin tetangga. Kalau di klaster rumah tapak di perumahan kan ngajak temen nginap suka diomongin. Di sini sebodo amat. Service charge-nya ditagih enam bulan sekali Rp2,5 juta atau sekitar Rp416 ribu per bulan. Air sekitar Rp7.500 per meter kubik. Totalnya dengan listrik saya lupa, mesti dicek dulu. Saya tidak nyuci sendiri tapi pakai jasa laundry. Soalnya di sini tempat jemurnya ribet. Nyuci seminggu sekali sekitar tiga kilogram, kurang lebih Rp35 ribuan. Jadi kira-kira sebulan Rp150 ribuan. PPRS (persatuan penghuni yang mengelola apartemen, Red) belum tahu woro-woro-nya, karena saya masih penghuni baru. Saya juga pulang malam terus. Kata tetangga sebelah, setiap enam bulan ada pertemuan penghuni di tower Akasia (Kalibata City terdiri dari 13 tower, Red). Tapi, saya nggak bisa ikut karena kerja.

Fiona (28 tahun), karyawan swasta di Bintaro Jaya
Tipe studio 25 m2 apartemen Bintaro Plaza Residence
Bintaro Jaya, Pondok Aren, Tangerang Selatan (Banten)

Dekat Tempat Kerja dan Keamanan 24 Jam

Saya beli apartemen ini Desember 2016 seken. Service charge-nya Rp19.500 per m2 atau Rp550 ribu per bulan. Sedangkan air Rp160 ribu, listrik Rp850 ribu, total sekitar Rp1,5 juta per bulan. Biaya listrik tinggi karena kalau weekend saya di rumah. Jadi, AC hidup 24 jam. Saya juga pakai hair dryer. Tetangga cowok bisa lebih murah biaya listriknya karena nggak pakai hair dryer.

Listrik unit saya 1300 VA. Itu cukup untuk AC, TV, kulkas, dispenser, water heater, dan magic jar kecil. Saya jarang masak sendiri. Tabung gas yang pink 5 kg jadi awet. Menurut saya, masak sendiri di apartemen lebih ribet dan jatuhnya justru lebih mahal. Saya juga nggak pernah sarapan, makan siang saja di kantor. Untuk makan malam pesan pakai ojek online kayak Go-food. Sekali makan rata-rata habis Rp50 ribu. Transport ke kantor pakai taksi online. Hanya Rp30 ribu pp, karena kantor saya dekat di sektor 7 Bintaro Jaya.

Mencuci pakaian pakai laundry kiloan, diambil dan diantar melalui resepsionis setiap dua minggu. Rata-rata 10 kg per dua minggu atau 20-30 potong pakaian. Tarifnya Rp10 ribu per kg. Jadi, sebulan rata-rata Rp100 ribu. Itu di luar cuci bed cover, selimut, jaket, yang biayanya lebih besar. Total rata-rata habis Rp4 juta per bulan untuk biaya hidup di apartemen mulai dari service charge, cuci pakaian, makan, dan belanja bulanan kecil-kecilan untuk isi kulkas.

Kalau mau renovasi harus deposit Rp500 ribu di luar uang untuk teknisi dan satpam yang mensupervisi. Mau renovasi harus isi formulir dulu dan menyebutkan tanggal mulai renovasi sampai selesai. Kalau renovasi besar, depositnya bisa Rp1,5 juta. Misalnya, mau ganti keramik, karena bisa pengaruh sama unit di bawahnya. Setelah selesai pengelola akan pastikan apa unit lain terganggu dengan renovasi kita. Kalau gara-gara kita pasang keramik, unit di bawah retak atau bocor, biaya perbaikan diambil dari deposit itu. Kalau tidak ada masalah, deposit itu bisa diambil lagi.

Saya tahu biaya tinggal di apartemen itu mahal dan sebetulnya bisa untuk nyicil rumah tapak. Tapi saya lihat kepraktisannya, dekat tempat kerja, dan keamanannya 24 jam. Kalau ada apa-apa, tinggal panggil petugas. Selain itu tinggal di apartemen ini juga sementara karena saya masih single. Kalau sudah menikah, pasti cari rumah biasa, apartemen ini dijual. Saya nggak mau ribet urus maintenance-nya kalau disewakan.

Evangelina (28 tahun), calon dokter spesialis di FKUI Salemba
Tipe 54 m2 apartemen Menteng Square
Jalan Matraman Raya, Jakarta Pusat

Parkir Nggak Leluasa

Saya beli apartemen tahun 2010 tipe studio 27 m2 dua unit, kemudian digabung jadi satu. Harganya waktu itu Rp350 juta dua unit (karena status proyek masih sebagai rumah susun sederhana milik atau rusunami, Red). Tempat saya berkegiatan tidak sampai satu kilometer dari lokasi apartemen. Setiap bulan saya bayar service charge Rp1 juta, listrik dan air Rp700 ribu, parkir Rp150 ribu per bulan. Tapi, ini tidak menjamin saya dapat parkir. Kalau pulang malam bisa nggak dapet. Jadi, diparkirin satpam, kuncinya dititip sama dia. Parkir bulanan itu cuma supaya kita nggak kena parkir jam-an yang Rp4 ribu per jam.

Saya mencuci sendiri di apartemen pakai mesin cuci. Memasak juga sering sendiri, pakai elpiji 12 kg, tiga bulan nggak habis. Apartemen saya juga dilengkapi AC, TV, dan kulkas, tapi nggak pakai microwave dan pemanas air. Enaknya tinggal di apartemen, lokasinya strategis. Mau ke mana-mana gampang. Perawatannya juga lebih mudah karena unitnya kecil dan semuanya sudah diatur (pengelola apartemen), nggak perlu ribet kayak di rumah biasa.

Nggak enaknya, ya itu, parkir nggak leluasa. Terus apa-apa harus lapor. Nggak boleh sembarang ngebor karena takut kena jalur elektrik atau struktur. Kalau mau renovasi unit, harus ada deposit ke pengurus apartemen. Misalnya, mau pasang AC depositnya Rp500 ribu. Setelah selesai dipasang, teknisi apartemen mengecek pekerjaannya, beres atau nggak. Kita juga sangat terpengaruh sama tetangga. Kalau mereka berisik atau jalan kasar di koridor, kedengaran ke dalam unit kita. Kalau ada unit yang bocor di atas, kita juga kena. Plafon unit saya jadi menghitam berjamur. Udah lapor, tapi unit di atas kosong (tidak dihuni). Yang kayak gitu-gitu jadi bikin ribet.

Belum pengurus juga suka nggak tanggap. Kita lapor tapi nggak tahu kapan datangnya. Sebagai penghuni kita juga nggak tahu hak-hak kita apa aja, suka ribet urusannya. Apartemen menurut saya, juga kurang oke kalau kita udah punya anak. Makanya, sekarang saya lagi sering di rumah orang tua yang kebetulan di daerah Matraman juga. Rencananya unit apartemen ini mau saya sewakan. Katanya tipe studio full furnished bisa laku Rp3 juta per bulan.

Wulan Suling, karyawan swasta di Jl Gatot Subroto, Jakarta
Tipe dua kamar tidur 49,4 m2 apartemen Pakubuwono Terrace
Jalan Ciledug Raya, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan

Akhirnya Disewakan

Saya beli apartemen ini Rp500 juta secara kredit dan mulai ditempati tahun 2015. Setiap bulan saya bayar maintenance fee Rp700 ribu, biaya listrik dan air Rp500–700 ribu. Sebelum ditempati, apartemennya saya renovasi dulu. Misalnya, kamar yang semula dua saya jebol jadi satu. Saat renovasi developer tidak mengenakan biaya apapun, kecuali waktu pengerjaannya ditentukan supaya tidak mengganggu penghuni lain. Make sense kok peraturan apartemennya. Biaya listrik dan air saya tekan seminimal mungkin dengan mematikan listrik yang tidak dipakai.

Saya juga tidak pakai microwave dan coffee maker, tapi diganti oven gas dan alat press manual untuk kopi. Saya enjoy tinggal di apartemen termasuk dengan biaya-biayanya, karena lebih simpel dan lokasinya lebih strategis di dalam kota dibanding tinggal di rumah tapak seperti saat masih sama orang tua di Cinere (Kota Depok di perbatasan dengan Jakarta Selatan). Apartemen cocok buat yang belum berkeluarga, beberes lebih mudah karena lebih kecil dan keamanannya terjamin. Sekarang saya dan suami membeli rumah tapak di Cinere Mas dekat rumah orang tua saya. Apartemen saya sewakan Rp90 juta per tahun lengkap dengan furniturnya. Saya mikir kalau punya anak nanti, ada area yang anak bisa jalan-jalan bebas. Makanya kita beli rumah tapak.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan