Bunga Naik, Konsumen dan Pengembang Sama-Sama Susah

Jumat, 5 Okt 2018 | Penulis: Yudis

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Penentuan bunga bank berpatokan pada suku bunga acuan Bank Indonesia yang disebut BI-7 Day Repo Rate. Setelah melalui periode suku bunga yang cukup rendah, mulai pertengahan tahun 2018 ini BI terus menaikan bunga acuan itu. Terhitung sejak Juli bunga BI 7 Day Repo Rate tercatat sudah 5,25 persen atau naik 75 basis poin sejak awal Mei, kemudian naik lagi menjadi 5,50 persen pada Agustus, dan 5,75 per September 2018.

Dalam waktu dekat dipastikan BI 7 Day Repo Rate akan kembali naik akibat aktivitas perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia Amerika Serikat (AS) dan China, serta rencana The Fed, bank sentral Amerika Serikat, menaikkan bunga acuannya dua kali lagi tahun ini untuk mengerem inflasi di negeri itu. Bisa dibayangkan nanti bunga kredit seperti KPR-KPA, dengan rata-rata selisih antara BI 7 Day Repo Rate dengan bunga perbankan 5-6 persen, akan mencapai 12-13 persen setelah sebelumnya sempat bertengger di angka 11 persenan.

Menurut Aldi Garibaldi, Senior Associate Director Capital Markets and Investment Services Colliers International Indonesia (CII), sebuah perusahaan riset, konsultan, dan manajemen properti asing di Jakarta, bunga tinggi akan dirasakan berat bukan hanya oleh konsumen tapi juga kalangan pengembang. Ditambah pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS, situasinya makin berat karena beberapa komponen impor untuk properti menjadi naik.

“Sekarang harga besi sudah langsung naik. Ini situasi yang berat untuk kalangan pengembang yang produknya banyak komponen impor. Jadinya buah simalakama. Kalau harga propertinya dinaikan, nanti tidak terserap. Kalau tidak naik, mengurangi gross margin (keuntungan kotor) developer yang akan berpengaruh terhadap pembiayaan dari bank,” katanya kepada housing-estate.com di Jakarta, Jumat (5/10/2018).

Aldi menyebut, umumnya kalangan pengembang mengambil gross margin 35-45 persen. Gross margin ini terkait dengan pemberian bunga dari bank. Bila gross margin rendah, bank akan memberlakukan bunga yang tinggi kepada pengembang. Gambarannya, bank memberikan bunga 13 persen saja, gross margin si pengembang minimal harus 35 persen.

Bandingkan dengan di Singapura yang bunganya rendah. Kalangan pengembang di sana bisa mengambil gross margin 15 persen saja Penyaluran dana bank juga bertahap sesuai progres proyeknya yang umumnya mulai 20, 30, 40 persen dan seterusnya.

Pencairan dana itu juga terkait dengan tingkat penjualan pengembang. Bila serapan penjualannya melemah terkait situasi ekonomi atau naiknya suku bunga, bank akan menghentikan pembiayaan untuk sebuah proyek. Bisa dibayangkan, progres proyek yang sudah mencapai 40 persen kemudian pendanaannya dihentikan.

“Situasi begini membuat kalangan pengembang harus ekstra kreatif mencari sumber-sumber dana alternatif. Misalnya, dengan mencari investor, dana dari konsumen, atau mezzanine loan yang bunganya juga pasti lebih tinggi bisa mencapai 17 persen. Makanya bunga tinggi ini tidak hanya berpengaruh untuk konsumen tapi juga berat bagi pengembang,” jelasnya.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan